The Amazing Selangor Story Part 3 : Chin Swee Temple, Homestay, Firefly Park and Satay Hut

Perjalanan di Genting masih berlanjut dengan segudang itenerary. Masih ada banyak sekali lokasi wisata yang wajib dikunjungi. Rasanya seperti tour yang ga pernah habis-habisnya. Never ending journey. Sekalipun dengan jadwal yang luarrrr biasa padat dan jam tidur yang berkurang drastis. Tapi tetap semangat untuk menikmati destinasi-destinasi selanjutnya. Eh, gimana ga semangat kalau kita terus membayangkan breakfast, lunch dan dinner di restoran-restoran paling oke. Ah, bener-bener deh mendadak konglomerat selama di Selangor.

Chin Swee Temple

Kami mengakhiri tour kami di kawasan Resort World Genting yang luar biasa besar dan megah itu. Sampai sekarang saya masih penasaran bagaimana mereka mampu membangun hotel-hotel tinggi menjulang di atas gunung yang tinggi itu. Bertolak dari Resort World Genting, kami berhenti sebentar di Chin Swee Temple. Kuil Buddha yang berdiri kokoh di lereng  bukit berbatu. Kabarnya, kuil ini selesai dibangun selama 18 tahun!

Chin Swee Temple Gate
Chin Swee Temple

Di ketinggian gunung, kuil ini berdiri dengan kokoh. Sejuknya udara pagi pegunungan berpadu dengan aroma hio yang menguar. Ah suasana di sini benar-benar membuat saya tenang, nyaman dan rileks. Tidak ada kebisingan. Hanya patung Buddha raksasa di lereng gunung yang tersenyum seolah menyapa setiap pengunjung.

Kanching Waterfalls

Setelah berfoto-foto narsis di setiap penjuru kuil. Kami melanjutkan kembali perjalanan ke Kanching. Ini adalah objek wisata air terjun yang memiliki tujuh tingkatan. Kalau di Indonesia seperti Air Terjun Tingkat Tujuh di Tapak Tuan, Aceh Selatan. Bedanya, antara air terjun yang satu dengan yang lainnya letaknya agak berjauhan. Saya ngos-ngosan mendaki tangga-tangga menuju tingkat yang ke tujuh. Kiri kanan masih hutan lebat yang suhu udaranya sejuk. Saat mendaki saya bertemu dengan seorang pembersih hutan yang memungut sampah-sampah. Keren ah, mereka juga mempekerjakan orang untuk menjaga kebersihan objek wisata mereka.

 

Kanching
Ga tau ini tingkat yang keberapa. Sepertinya ini yang keenam :p
Tingkat 7

Selain pemandangan alam yang sejuk dan air terjun yang bagus, ada pemandangan unik nih. Kalau kemarin saya melihat ada banyaaaak sekali pasangan turis dari Timur Tengah yang istrinya menggunakan abayya serba hitam, di Kanching pun saya menemukan hal yang sama juga. Ada beberapa pasangan beserta keluarga mereka yang berlibur.

Ini penampakannya :

 

Gimana menurut agan?

Bagi yang pencinta alam, suka hiking dan wall climbing, ini adalah lokasi yang tepat. Karena ada lokasi air terjun yang ke tujuh ada fasilitas untuk wall climbing.

Menuruni tangga demi tangga sambil menikmati pepohonan yang hijau, membuat pikiran kembali segar. Sambil duduk di salah satu anak tangga, saya menarik nafas dalam-dalam dan merasakan kesegaran udara memenuhi paru-paru. Seolah saya bisa merasakan aliran darah ke otak dan menyegarkan kembali pikiran. Perasaan jadi begitu lega dan badan terasa lebih ringan melangkahkan kaki menuruni setapak demi setapak tangga.

 

Take a deep breath...

Sabak Bernam

 

Setelah menikmati lunch di taman pinggir sungai Kanching, kami melanjutkan lagi perjalanan menuju Sabak Bernam. Perjalanan yang menghabiskan waktu 2 jam ini kami gunakan untuk istirahat. Padahal saya pengennya sih menikmati perjalanan sambil melihat daerah-daerah perkampungan. Tapi mata sudah ga tahan lagi. Akhirnya ketiduran juga… Zzz…

Saya terbangun ketika Kak Ning berbicara dan menjelaskan Sabak Bernam dan apa yang akan kami temui di sana nanti. Tadinya saya berpikir bahwa kami akan melakukan kegiatan seperti bersawah dan kegiatan yang biasa dilakukan di kampung-kampung. Saya sama sekali ga kepikiran akan menginap di rumah warga. Saya betul-betul surpriiise ketika tahu kami diterima sebagai anak angkat.

Kejutan ini dimulai dengan penyambutan yang sangat Indonesia sekali. Penyambutan tamu ala Betawi dengan tongkat yang ujungnya terbuat dari lidi-lidi yang dibalut dengan kertas warna-warni. Ada yang menabuh gendang.

 

Homestay at Sabak Bernam

Penyambutan ala Indonesia ini membuat saya kaget. Lho? ini kenapa ada kuda kepang di sini? Saya menahan rasa penasaran sampai upacara penyambutan selesai. Sambil menikmati air kelapa muda dan snack yang disediakan, saya menonton kuda kepang beraksi yang dimainkan oleh anak-anak muda berumur belasan tahun ini. Sesekali terdengar suara pecutan sekeras suara petasan yang bikin kaget. Usai pertunjukkan tarian kuda kepang, kami dipersilahkan untuk belajar tarian kuda kepang ini. Saya langsung maju dan diajari menari kuda kepang oleh seorang budak kecik yang tambun.

 

Belajar tarian Kuda Kepang

Sekitar jam tiga siang, kami diperkenalkan dengan Ayah Angkat yang akan menampung kami selama semalam. Saya dan Dylan dikenalkan dengan Pak Munjari yang kemudian kami panggil Ayah. Bapak yang sudah berumur 70 tahun ini tetap kelihatan kuat menyetir mobilnya. Sepanjang perjalanan pulang, beliau bercerita tentang asal muasal kampungnya dan tentang program homestay yang mereka kelola. Saya dan Dylan sangat senang dapat diterima dengan baik di keluarga ini.

Our FamilyDi saat-saat terakhir ini saya baru mendapat informasi ternyata kampung ini didominasi keturunan jawa yang sudah seratus tahun menghuni daerah tersebut. Pak Munjari misalnya, nenek moyangnya memang berasal dari Pulau Jawa yang datang ke Malaysia seabad yang lalu. Hebatnnya lagi, mereka masih tetap bisa berbahasa Jawa dengan sangat lancar. Alid Abdul yang berasal dari Jawa Timur sudah merasa pulang kampung karena mereka semua berbahasa jawa. Saya seperti tidak berasa di Malaysia lagi ketika mendengar mereka berkelakar dalam bahasa itu.

Kegiatan malam sebelum kami berpisah dengan ayah angkat adalah mengunjungi Firefly Park di Kuala Selangor. Ini adalah kawasan hutan mangrove yang juga sebagai tempat tinggal kunang-kunang yang dalam bahasa melayu disebut kelip-kelip. Di sini, kelip-kelip adalah binatang yang dilindungi dari kepunahan. Untuk menjaganya supaya tetap lestari, masyarakat lokal yang disponsori oleh Tenaga Nasional (kalau Indonesia, PLN) berusaha untuk tetap menjaga habitat asli kelip-kelip tetap bersih dan terawat. Sebagai objek wisata, tentu saja mereka tidak mau keindahan alam ini rusak.

Setelah menikmati keindahan pohon natal di tepi sungai Kuala Selangor, kami dibawa ke sebuah warung sate. Satay Hut namanya. Unik sekali. Biasanya yang kita dengar adalah Pizza hut. Tapi di sini ada Satay Hut dengan menu sate ayam. Ada dua jenis sate di sini. Sate panjang dan sate pendek. Enak dan manis. Walaupun agak kurang berasa rempahnya tapi dicocol dengan saos kacang rasanya nendang sekali! Hmm…tiba-tiba lapar mengingat satay hut itu. :D

One thought on “The Amazing Selangor Story Part 3 : Chin Swee Temple, Homestay, Firefly Park and Satay Hut

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s