Peunayong – Keutapang

Berjalan kaki di Banda Aceh memang suatu keasyikan sendiri bagi saya. Sekalipun banyak reaksi miring yang bikin telinga kering tentang kebiasaan saya ini tapi semangat tetap jalan terus! Reaksi kawan-kawan yang tau tentang kebiasaan saya ini sama saja semuanya. Satu kata : GILA!

Yah, sodara-sodara.. Bukannya saya pelit tidak mau berbagi ke abang tukang becak mari dong kemari, aku mau nabok…(Haiah!!!). Tapi ini menyangkut hati, man! Saya memang cinta mati sudah berjalan kaki kalau malam-malam di Banda Aceh. Biar dikata gila juga siapa yang peduli? Nyak-nyak penjual pisang goreng saja tak peduli, apalagi kupu-kupu malam di pinggir jalan Stui!

Seperti barusan, saya kembali melihat penampakan-penampakan yang membuat saya miris. Beberapa wanita yang keluyuran tengah malam di trotoar dengan pandangan mata yang ‘penuh harap’ ke arus lalu lintas. Demi mencari makan mereka terpaksa atau tidak, harus bekerja seperti itu. Saya jadi merasa bersalah ketika tadi begitu menikmati makanan-makanan di Daus. Yah, sekalipun ditraktir sih.

Berjalan kaki bagi saya adalah satu-satunya kegiatan yang mesti dan harus dan kudu dilakukan kalau di Banda Aceh. Sekalipun kaki dan bahu yang menahan ransel terasa mau lepas ditambah pula dengan kerinduan pada blog. Kaki saya pun bergerak seperti kesurupan. Tak peduli lagi pada sakit malah mempercepat jalan hingga bertemu warnet.

Hm, saya kepikiran terus nih, berapa kilometer ya jarak perjalanan yang sudah saya tempuh berjalan kaki dari Peunayong ke Keutapang?

6 thoughts on “Peunayong – Keutapang

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s