Malu bertanya ya jalan-jalan

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu adalah pepatah yang sebenarnya. Tapi kini sering diubah menjadi Malu bertanya ya jalan-jalan. Memang betul. Bukannya saya malu bertanya tapi malas saja jika harus berhenti dan bertanya ke orang. Apalagi jika ada banyak orang seperti di warung, pos ronda atau di pasar. Saya lebih mengandalkan insting saja jika bepergian. Jika sudah benar-benar tidak tahu lagi harus keman, barulah saya bertanya ke orang-orang. Heheh…Setelah benar-benar tersasar barulah bertanya.

Karena kemalasan saya bertanya, pada hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Agustus lalu. Saya benar-benar sudah berjalan jauh dari lokasi yang ingin saya tuju. Yaitu Ie Suum. Setelah melihat Benteng Inong Balee saya melanjutkan perjalanan terus ke Lamreh. Jalan beraspal retak-retak akibat gempa beberapa tahun silam merayap mendaki dan menuruni bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon Jamblang. Lahan-lahan kosong terpagar rapi dengan pohon kuda-kuda hingga berkilo-kilometer jauhnya. Siapa yang mampu mendirikan pagar sepanjang itu? Rakyat Aceh pastinya. Salut!

Perjalanan semakin jauh. Saya melihat sebuah kebun yang terpagar rapi. Tapi di dalamnya hanya semak belukar dan pohon jamblang. Saya belok kiri dan berjalan di atas jalan selebar empat meter yang berbatu. Lima ratus meter kemudian saya melihat sekelompok nelayan yang sedang menarik sebuah boat.

Tarik Boat
Tarik Boat

Ketika sedang asyik memotret, seorang kakek paling kanan dari foto di atas memanggil saya. “Jak keuno siat. Neutulong tarek nyoe..”

Tentu, dengan senang hati saya mau membantu. Saya memasukkan kamera ke kantong celana dan melepas sandal. Lalu berdiri di samping si kakek dan ikut bersama-sama menarik boat. Akhirnya boat itu pun dapat terdorong hingga ke atas pantai yang diinginkan. Hah, pengalaman yang menarik bukan?

Boat
Boat

Seorang bapak-bapak paruh baya berjalan di sisi kiri saya. Hm, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang lokasi Ie Suum tersebut. Sebelumnya berbasa-basi sebentar. “Pue nan gampong nyoe, Pak?” Hiks, saya pede saja bertanya dengan bahasa Aceh yang terbata-bata. Si Bapak menjawab “Nyoe gampoeng Lamreh, Lamreh namanya”.

Pantai Lamreh
Pantai Lamreh

Lalu beliau menberitahu saya kalau saya sudah terlalu jauh dari desa Ie Suum tersebut. Beliau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Aceh yang sangat kental. Aksen favorit saya. Haha…Setelah mengucapkan terima kasih saya langsung cabut dan berbalik arah. Sesuai petunjuk yang saya dapatkan dari si Bapak dari Lamreh dan penjual bensin di depan pelabuah Malahayati, akhirnya saya menemukan juga lokasi Ie Suum tersebut. Saya bertemu dua orang anak-anak yang baru pulang sekolah dan bersedia menunjukkan jalan kesana.

Raga Eungkot
Raga Eungkot

Sepanjang jalan mereka bercerita tentang kecelakaan yang tadi pagi terjadi. Tentang pembunuhan karena balas dendam. Tentang sebuah jalan yang banyak pancuri dan kalau kita ditangkap sama pancuri itu maka kita akan di tiek-tiek keudeh. Saya harus berhati-hati. Dalam hati saya tertawa mendengar dua bocah itu berbicara dalam bahasa yang kaya!

Ie Suum
Ie Suum

Ini dia Ie Suum yang membuat saya kesasar kemana-mana. Ternyata tempatnya di luar ekspektasi saya. Saya pikir di sana ada kolam pemandian air hangat atau semacam itu. Ternyata hanya aliran air saja yang keluar dari bebatuan merah dan mengalir membentuk alur-alur kecil. Air panas ini terus mengalir ke sungai di bawah sana. Bercampur dengan air dingin dari sungai induk. Padahal saya sudah menyiapkan celana ganti untuk mandi-mandi. Hahaha…

Ie Suum 2
Ie Suum 2

Kawan saya bilang, dulu daerah itu adalah tempat mayat-mayat korban konflik dibuang. Mungkin itu yang dimaksud oleh dua orang anak laki-laki tadi dengan kata di tiek-tiek. Saya yang salah dengar kali ya.

Ie Suum 3
Ie Suum 3

Ketika di kantor saya menceritakan kembali pengalaman saya ketika mengunjungi daerah-daerah tadi. Beberapa kawan yang memang berasal dari Banda Aceh merasa heran saya mampu datang ke daerah ini. Karena mereka sendiri tidak pernah berada sejauh itu dari Banda Aceh.

4 thoughts on “Malu bertanya ya jalan-jalan

  1. Sumpah..25 taon di banda,aq baru dngr Cit ttg aliran ie suum di lamreh sono.lumayan jauh la dr kota banda Aceh,sktar 1 atw 2 jam-an gt ya?
    ternyata ky bongkahan2 batu gt ya.eh..kalo dliat digambar kamu itu ky’a aq prnah tu kpantai Lamreh.dah lama,pas smp ky’a.
    Kalo ga salah,dlu pantai itu dipisahin ama seperti kuala gt.jd ky dpulau2 gt..
    Dulu aq sering ikut mancing sama bapak ke pelabuhan Malahayati itu.msh kecil,imut dan manis pastinya.hehehe..!!
    Sekarang abang ku jg ada yg tinggal di perumahan Neuhen,yg d atas gunung itu.yg berjejer rapi dibukit2 itu.
    Tiap pulang kbanda,aq tetap kesana Cit.dan tetep..main di laut ujung batee’a..!!

    selamat ya Cit,udh menjelajah ampe ksana.mk’a bsok2 jgn ktipu ama aer panas.logikanya..banda itu kan udh panas.masa iya sih ada org yg mau berendem di aer panas jg??hehehe.ada x y Cit.
    Tp Cit,yg ada jg mata’i aer dingin sono tuh yg penuh..;)

  2. Dicko anjrit!Sempat-sempatnya membahas begituan..Kurang ajar ya sama senior..Hahaha..Eh,tempatnya seru abis tau gak.Apalagi pas di benteng sambil makan buah jamblang itu..Berasa kaya di surga..Hahaha…Lebay yo?antah lah..Haha..

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s