Road to Sinabang

Kamis, 26 Juni 2008. 7.45 WIB

Cuaca sudah mulai mendung saat kami berangkat dari Meulaboh menuju Labuhan Haji. Menaiki mobil Kijang dengan penumpang 9 orang; saya, duduk paling belakang di antara tas, koper dan ransel.

Hujan mulai turun ketika kami sampai di Tangan-Tangan dan perlahan tetes hujan mulai berhenti ketika kami memasuki Kabupaten Aceh Selatan. Sampai di Labuhan Haji sudah mulai malam dan kami singgah di sebuah warung di Kampung Pasar Lama, tepat di samping pagar pelabuhan.

Sepintas saya melihat Yusran, temanku waktu SD dulu. Saya yakin sekali itu dia. Hore…Akhirnya saya menemukan salah seorang teman lama saya dulu! Teman SD pula! Saya sudah bersiap turun dan mau menyapa Yusran, tapi belum sempat turun dari mobil saya sudah disuruh beli tiket kapal fery. Setelah membeli tiket, Yusran sudah tidak ada lagi di tempat dia berdiri tadi. Hemmh…Kecewa!

Lagi-lagi saya harus menelan kekecewaan! Pulang dari beli tiket tadi, saya masuk warung. Dan nasinya habis! Waduh, kalau tidak makan malam, saya bisa kelaparan di kapal nantinya. Ya sudah, saya pesan Pop Mie saja. Tapi masih tetap lapar! L

Saya coba sms kakakku yang baru pindah ke sini dengan suaminya di Kampung Baru. “Kak, kemarilah…Lapar ni, belon makan!” begitu isi smsku. Terus dia balas kalau dia sedang makan kenduri di rumah Bang Eri, suaminya. Tapi dia akan datang kalau acara sudah selesai.

Jam 9.25 malam, kakakku sms kalau dia on the way ke pelabuhan dengan Bang Eri. 5 menit kemudian Bang Eri menjemputku di pintu gerbang pelabuhan dan kakak sudah menunggu di sebuah café yang letaknya kurang dari satu kilometer dari situ. Tidak jauh dari pelabuhan. Saya langsung pesan nasi goreng ayam dan teh setengah panas (baca : hangat ).

Sebelum pergi, saya meng-sms temanku yang sudah duluan naik ke kapal untuk mengabariku kalau pemberitahuan keberangkatan kapal sudah dibunyikan. Padahal waktunya sudah mepet sekali tuh. Saya makan dengan cepat, sudah seperti orang yang tidak pernah makan selama tiga bulan!

Saking mepetnya waktu keberangkatan, sebelum pesanan nasi gorengku sampai, saya berlari-lari ke toko terdekat membeli snack dan jus kotak pseanan teman-teman di kapal. Beeeuhh…perasaan nasi masih di kerongkongan, saya sudah harus kembali ke kapal lagi.

Tanda-tanda di langit (Jah! Seperti peramal saja!) menunjukkan akan ada badai atau turun hujan di tengah laut. Tapi ternyata (Alhamdulillah) perjalananku kali ini juga tenang-tenang saja. Malah saya bisa tidur dengan nyenyak bahkan bermimpi pula sedang mandi-mandi di Pantai Ganting. Temanku bilang, subuh itu saya ngigau. Gak jelas saya ngomong apa…”au au au auuu…” begitu katanya. Apa coba ?

Jam setengah delapan pagi rombongan kami tiba dengan selamat di Sinabang. Saya juga bertemu sepupuku, Bang Yos yang bekerja di pelabuhan Sinabang. Pas lihat saya, dia langsung kaget gitu. Soalnya baru senin lalu ketemu di Meulaboh kok sekarang sudah ada di Sinabang. Saya tidak sempat mengabarinya kalau mau ke sini.

Jarak dari pelabuhan ke kantor cuma satu kilometer, sebenarnya bisa sih dengan jalan kaki karena dekat. Tapi si bos minta naik becak. Sampai di kantor, saya malah tidak ingat sama sekali dengan pantangan yang saya sebutkan di postingan sebelum ini. Sampai kami di kantor, saya langsung minum Aqua dan makan wafer Tango dan kacang garing! Beberapa menit kemudian, sarapan pun datang. Habis sarapan, saya mandi. Hahaha…Sedikitpun saya tidak ingat dengan pantangan itu. Dan syukurlah tidak terjadi apa-apa. Mungkin sudah terbiasa kali ya? Soalnya ini adalah yang ketiga kalinya saya kesini.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s