Cara Mengurus Penambahan Nama di Paspor

Undangan ke Tanah Suci itu kadang memang tak dapat kita perkirakan kapan dan lewat mana datangnya. Tak pernah sekali pun terlintas di pikiranku apalagi sampai berniat untuk melaksanakan ibadah umrah. Dulu sewaktu masih bekerja di biro travel, melihat nominal harga-harga paket umrah saja aku bengong. Duit dari mana? Nabung duit mudik saja harus menangis darah belum tentu dapat. Hahaha…

Kemudian undangan itu datang tak di Lanjutkan membaca “Cara Mengurus Penambahan Nama di Paspor”

Iklan

Ngeliwet, Pantai Bagedur, dan Curug Munding

Akhir minggu yang panjang dan langka di bulan Maret lalu (17-19/03) aku gunakan untuk berlibur di Malingping, Kabupaten Lebak, Banten. Jaraknya lumayan jauh sih dari tempat tinggalku. Hampir 3 jam perjalanan dengan motor yang harus aku dan 5 orang teman kantor habiskan dari Baros, Kabupaten Serang.

Jika aku mengulang kembali perjalanan ini seorang diri, aku yakin akan tersasar. Karena rute dari Baros ke Malingping ini ada banyak sekali persimpangan jalan yang menghubungkan satu kecamatan ke kecamatan yang lain, kabupaten satu ke kabupaten yang lain lagi. Rutenya membuat aku bingung meski ada penunjuk jalan sekali pun. Untungnya kemarin itu aku dipandu oleh orang Malingping sendiri, Bang Suro, yang akan menjamu kami di rumahnya selama dua hari.

Perjalanan ini sudah direncanakan seminggu yang lalu. Aku awalnya yakin rencana ini akan gagal sebagaimana rencana-rencana sebelumnya yang pernah kami buat. Tapi kali ini alhamdulillah, jadi juga rupanya.

Rumah Bang Suro berada sekitar 10 km dari kota Malingping, melewati jalan aspal dan beton yang berkelok-kelok, naik dan turun bukit. Melewati kebun sawit, hutan, melintasi pasar, dihalangi hujan lebat, dan dipanggang matahari. Kami tiba saat tengah hari dengan perut lapar. Beberapa buah jambu batu, jeruk, kokosan (sejenis langsat), dan duku disuguhkan untuk mengganjal perut yang berontak sebelum makanan utama dihidangkan.

Kami mengadakan liwetan atau ngeliwet untuk makan siang di hari pertama itu. Makan ala anak pesantren berupa nasi liwet dan ikan bakar yang disajikan di atas daun pisang dan disantap bersama-sama di beranda rumah. Sungguh sedap! Makan siang ini baru bisa disantap pada pukul 2 siang. Terbilang cukup telat, karena menyiapkan semua makanan itu butuh waktu lumayan lama.

 

Empat orang teman yang lain menyusul dari Serang dan tiba di rumah selepas jam 9 malam. Empat vespa diparkir di depan warung, Bang Sarif dan teman-temannya telah tiba dan tampak kembali bersemangat setelah melihat mangkuk-mangkuk bakso ikan dan mie ayam yang terhidang di meja.

Pantai Bagedur

Rencana awalnya adalah mengunjungi Pantai Sawarna. Tapi jaraknya yang ternyata masih sangat jauh dari rumah Bang Suro dan keterbatasan waktu yang kami miliki, akhirnya rencana diubah ke Pantai Bagedur yang lebih dekat supaya kami masih punya cukup waktu untuk ke Curug Munding di Gunung Kencana.

Pantai Bagedur tampak khas dengan karang-karang hitam yang mendominasi pantai putih kecoklatannya. Gelombang-gelombang besar berdebur keras menghantam karang dan buih-buih putih menyelimuti semua permukaan karang. Angin dengan aroma laut bercampur bau rumput beberapa saat sempat menghempaskan aku kembali ke kampung halaman, rindu pun terobati sudah.

Salah satu sisi Pantai Bagedur yang berkarang.

Kami memilih sebuah pantai yang terdapat semacam atol yang pada pinggir-pinggirnya dibatasi karang. Namun pada bagian terluar, terdapat sebuah celah lebar sehingga gelombang tetap bisa masuk dan mendebur lepas ke pantai berpasir. Pada pantainya pun, terdapat pula karang-karang besar, tinggi dan luas. Sebagian tebingnya menutupi setengah bagian pantai berpasir di dekat atol tadi.

Lokasi mandi yang terlihat amat saat tenang.
Lokasi mandi yang terlihat amat saat tenang.

Gelombang besar menghempas ke sisi batu karang paling luar atol dan menciptakan ombak-ombak di dalam kolam. Di sana lah aku menyeburkan diri. Membiarkan diri dimainkan ombak, mengikuti arus. Tapi aku harus tetap awas pada gelombang besar yang kadang-kadang datang. Arusnya dapat menarik badanku begitu saja dan membenturkannya ke dinding-dinding karang yang tajam. Dua kali aku dan seorang teman nyaris terseret arus. Melihat gelagat alam yang mulai tak ‘aman’ begitu, aku dan teman-teman menyudahi bermain-main di dalam air dan bergegas ke daratan, menikmati jagung dan kacang sambil memperhatikan gelombang laut selatan dari balik karang. Terlihat anggun dan ganas di saat bersamaan.

Detik-detik saat gelombang besar datang. Arusnya menyeretku dengan kuat.
Detik-detik saat gelombang besar datang. Arusnya menyeretku dengan kuat.

Ketika matahari sudah semakin tinggi, kami memutuskan kembali ke rumah Bang Suro untuk bersiap pula ke Curug Munding. Tapi sebelum berangkat ke sana, tanpa Bang Suro dan aku ketahui, beberapa orang teman yang lain rupanya telah berbelanja ikan dan sotong di Pasar Malingping untuk dibakar sebagai menu makan siang. Seekor ikan laut besar yang entah apa namanya serta 2 kilogram sotong tiba di rumah saat aku tertidur di balai-balai.

Aku terbangun ketika mendengar suara cempreng knalpot vespa dan membantu semampuku apa yang bisa dibantu. Pekerjaan dapur itu lebih banyak dikerjakan oleh teman-temanku. Mereka tampak sangat berpengalaman dengan urusan membersihkan ikan, sotong, meracik bumbu, membakar arang, dan menanak nasi liwet. Aku yang tak pernah mondok ini merasa sedikit tak enak hati karena lebih banyak duduk memperhatikan.

Acara ngeliwet ini juga butuh waktu berjam-jam. Setelah lauk dan sambal ludes, ditambah dengan istirahat untuk memberi waktu lambung mencerna beberapa saat, kami kembali berkemas dan pamit pada keluarga Bang Suro. Sedangkan Bang Suro masih terus ikut menemani ke Curug Munding.

Bang Suro menaiki motor trail bututnya yang tadi malam diambil dari rumah mertuanya saat kami berjalan-jalan di Alun-alun Malingping. Suaranya sungguh membuat kuping pengang jika berada terlalu dekat. Sedangkan aku dan yang lain, kecuali Bang Jali dengan motor trail juga, mengendarai vespa dan motor matic.

Curug Munding

Ada dua jalur untuk menuju ke lokasi air terjun ini. Yang satu memiliki penanda dengan nama balok Curug Munding Caringin Gunung Kencana di pintu gerbang. Sedangkan yang satu lagi yang kami lalui-tidak ada petunjuk apa-apa. Namun kedua jalur ini sama-sama tidak diaspal. Atau lebih tepatnya aspalnya sudah hancur. Yang tersisa hanya jalanan berbatu dan sedikit aspal di beberapa ruas.

Kondisi jalan menuju Curug Munding.
Kondisi jalan menuju Curug Munding.

Perjalanan menuju lokasi parkir menjadi terasa lebih lama dan jauh karena kondisi jalan seperti itu. Ditambah pula dengan beberapa jalur yang mendaki lalu menurun dengan tikungan yang tajam. Namun di tengah kondisi jalan yang rusak begitu, ada pula sebuah kampung. Di sanalah kami memarkirkan motor di tempat yang sudah disediakan warga.

Jarak dari tempat parkir ke air terjun tak terlalu jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki di jalan setapak yang sudah di-paving block. Air terjun jatuh dari atas tebing batu setinggi kurang lebih 10 meter dan mengalir ke sungai di lembah yang membelah persawahan terasering yang saat itu sedang menghijau. Waktu itu sudah jam 3 sore. Aku tak membuang-buang waktu lagi dengan mengobrol. Kubuka baju dan mengganti celana panjang ke celana renang lalu menyeberangi sungai.

Persawahan di dekat air terjun Curug Munding.
Persawahan di dekat air terjun Curug Munding.
Curug Munding Caringin di Gunung Kencana, Lebak.
Curug Munding Caringin di Gunung Kencana, Lebak.

Airnya keruh, kecoklatan. Ada tebing batu besar di kedua sisi kolam air terjun. Pada satu sisi, terdapat air terjun kecil lagi yang kerap dijadikan lokasi berswafoto dengan latar air terjun. Sedangkan sisi satu lagi ditempati beberapa laki-laki yang bolak-balik melompat ke air, naik ke batu lalu melompat lagi. Aku pun mengikuti mereka dari belakang yang kemudian diikuti oleh teman-temanku yang lain beberapa saat kemudian.

Meski airnya keruh, tapi pemandangan air terjun dari tengah kolam cukup menarik. Apalagi dengan adanya pelangi yang muncul di salah satu satu tebing akibat bias cahaya matahari pada air terjun. Pelangi itu bertahan cukup lama menemani kami bermain-main di dalam air.

Pelangi di Curug Munding Caringin Gunung Kencana
Pelangi di Curug Munding Caringin Gunung Kencana

Setelah puas bermain air, kami berkemas dan pulang. Kali ini Bang Suro kembali pulang ke rumahnya sendirian dengan motor trail tanpa lampu itu. Sedangkan kami mengambil jalan pulang kembali ke Serang.

Cahaya matahari telah sepenuhnya hilang dan malam mengubah semua yang samar-samar tampak begitu asing. Aku tak ingat lagi pernah melewati jalan dan persimpangan yang kami lalui. Agar tak salah jalan, aku sengaja berjalan di dalam iringan-iringan. Tapi sekali-sekali tanpa aku sadari, posisiku sudah berada paling depan. Setiap kali menjumpai persimpangan, aku harus berhenti dulu dan membiarkan teman-teman mendahului dan memandu ke jalan yang benar.

Pergi seorang diri pada siang hari kemungkinan nyasarnya saja sudah besar, apalah lagi jika pulang seorang diri pada malam hari? Tapi apa pun yang terjadi, aku enggak pernah kapok bersepeda motor ke tempat-tempat yang jaraknya terbilang jauh.

Dompet Dhuafa Run For Education 2018

Cuaca di Serang pagi Minggu (11/02/18) itu sangat nyaman untuk berlari. Langit ditutupi awan abu-abu yang menahan sinar terik matahari. Udara cukup adem dan lalu lintas juga sangat kondusif.

Acara lari ini diikuti beberapa komunitas lari dari Serang dan Cilegon. Seperti Serang Running Club, Runners of Serang, Cilegon Runners, Cihuy Runners, serta diikuti juga oleh Lanjutkan membaca “Dompet Dhuafa Run For Education 2018”

Belajar Pakai Jam Ke Mana-mana

Aku selalu merasa aneh jika diharuskan memakai aksesoris. Dulu pernah mencoba memakai cincin, aku merasa ketuaan. Kucoba memakai topi, enggak nyaman juga. Coba pakai gelang tali ala petualang gitu, err…enggak enak juga. Rasanya kayak ada yang ngeganjal gitu di jari, kepala, dan tangan.

Saat dulu masih lumayan sering mengikuti acara-acara blogger, biasanya blogger suka dikasih topi yang harus dipakai selama kegiatan di luar ruangan. Nah itu aku agak malu sih memakainya karena merasa kurang cocok jika kulihat bayanganku di cermin. Padahal bukan karena tak cocok, tapi karena tak terbiasa saja. Di mataku, penampakanku jadi jelek banget. Karena diharuskan pakai, ya sudah deh dipakai. Tapi akhirnya semua aksesoris itu kuhibahkan ke orang lain.
Lanjutkan membaca “Belajar Pakai Jam Ke Mana-mana”

Tempat Membaca Favorit

Hampir semua buku yang saya miliki habis dibaca di kamar tidur, tepatnya di atas kasur. Hanya di situlah saya bisa menikmati hampir semua cerita dalam buku yang saya baca. Meski membaca sambil tiduran itu tidak baik, tapi tak ada yang lebih menyenangkan membaca sampai mata terkantuk-kantuk lalu terlelap dengan buku tergeletak di dada.

Dulu ketika saya masih kuliah, saya bisa tidak keluar dari kamar seharian sampai buku yang saya baca tamat. Yang paling parah adalah ketika membaca

Lanjutkan membaca “Tempat Membaca Favorit”

Solo Traveling or Group Traveling?

Dulu aku adalah seorang penikmat solo traveling. Yaitu bepergian seorang diri. Tidak dalam grup, berdua, bertiga, tapi sendirian saja. Kesukaan aku ini memunculkan pertanyaan bagi banyak orang yang mengetahui rencana yang akan aku lakukan atau setelah mendengar kisah-kisah perjalananku. Ini cukup aneh bagi mereka. Tak lazim.

Tapi bagiku, melakukan perjalanan seorang diri ini sungguh suatu perjuangan yang nano-nano, banyak rasanya. Karena mulai dari awal hingga akhir, perencanaan, keputusan, dan eksekusi ada di aku semua. Dengan pertimbangan-pertimbangan yang mungkin bersangkutan dengan orang lain juga tentunya. Apapun yang aku lakukan, konsekuensinya aku sendiri yang tanggung. Tak ada teman untuk berbicara. Kecuali yang aku temui di perjalanan. Mungkin ini yang menjadi pertanyaan bagi mereka, apa tak kesepian? Kemudian aku sadar, kesepian adalah teman.

“Travel far enough, you meet yourself.”― David Mitchell, Cloud Atlas
“Travel far enough, you meet yourself.”― David Mitchell, Cloud Atlas

Kepribadian seseorang terbentuk dari apa yang terjadi di masa lalunya. Itulah yang aku sadari kenapa aku lebih senang berangkat sendirian. Pada beberapa perjalanan yang lalu, aku lalui dengan beberapa orang teman yang ternyata tak sesuai dengan harapan. Ternyata benar pepatah yang mengatakan:

Jika kau ingin mengenal seseorang, bepergianlah dengannya.

Paling ganteng sendiri.
Paling ganteng sendiri.

Namun yang terjadi adalah kita (aku) bukan hanya mengenal teman seperjalanan tapi juga makin mengenal diriku sendiri dengan perjalanan bersama mereka. Aku seperti menemukan kepingan-kepingan puzzle yang hilang yang tak pernah aku rasakan hilang. Ternyata bukan mereka yang tak bisa memenuhi harapan-harapanku, tapi akulah yang tak mampu menjadi teman seperjalanan yang baik bagi mereka.

Belajar dari pengalaman masa lalu, aku tak kapok melakukan perjalanan dengan orang lain, bahkan yang belum aku kenal sekali pun. Aku menyimpan semua ekspektasiku pada rupa dan rasa perjalanan yang akan terjadi nanti dan membiarkan perjalanan itu memberi kejutan.

Traveling dalam grup adalah perjalanan yang membuka lebih banyak jendela untuk aku bisa melihat lebih leluasa ke karakter orang yang kutemani selama traveling. Dan aku ketagihan untuk melakukannya lagi.

Bagaimana dengan kamu, apakah kamu tipe traveler yang senang sendirian atau bersama teman-teman?

Melepas Virgin Full Marathon di Jakarta Marathon 2017

Tahun 2016 lalu aku menyesal memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam Jakarta Marathon (JakMar) karena harga tiketnya yang sangat mahal. Terlepas dari teknis pelaksanaan JakMar 2016 yang dinilai tidak begitu bagus, tapi membayangkan berlari mengelilingi Jakarta di Lanjutkan membaca “Melepas Virgin Full Marathon di Jakarta Marathon 2017”