[Pulau Banyak Trip-1] Tiba di Pulau Balai

Mobil kijang yang aku dan Bang Tekno tumpangi tiba di Jembatan Tinggi, Pulo Sarok pada jam 6 pagi setelah menempuh 8 jam perjalanan dari Medan. Cuaca pada pagi itu berawan dan sedikit mendung. Hawa-hawanya seperti akan turun hujan sebentar lagi. Kami segera mengangkat barang-barang dan berjalan masuk ke sebuah warung yang dibangun di atas rawa berair payau yang ditumbuhi bakau. Benar dugaanku, setelah menyantap sarapan, hujan pun turun.

Pulo Sarok adalah salah satu kampung di Kecamatan Singkil. Daerah yang terletak di pesisir sungai dan laut ini merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak bencana tsunami yang lumayan parah tahun 2004 silam. Datarannya turun hingga 1 meter. Ini dapat kita lihat dari banyaknya rumah-rumah yang tidak dihuni lagi dengan kondisi lantai yang terbenam. Beberapa rumah yang masih ditempati harus meninggikan lantai rumah agar tidak kebanjiran ketika hujan. Continue reading

Ayo, jalan-jalan ke Selangor!

Eh? Ke Malaysia? Selangor? Berarti ke luar negeri dong ya? Huaaaah… pengeeeen…

Haha…tiba-tiba jadi norak-norak-bergembira kalo ada yang ngajakin ke luar negeri. Kapan lagi ya kan? Apalagi gratis gini! Anggap saja saya yang menang kontes dan siap berangkat ke Selangor untuk menikmati keindahan dan keunikan-keunikan dari salah satu kota terpenting dan termaju di Malaysia ini.

Langsung kebayang gimana nantinya nikmatnya berleha-leha di Pantai Morib sambil mengejar kepiting yang langsung bersembunyi ke dalam sarang pasirnya. Melihat air laut surut sedemikian jauhnya sampai pantainya jadi seluas lapangan bola! Seru juga buat main ‘bola gila’ di situ. Kalau sudah kecapaian, boleh rehat sambil tiduran dan berjemur di pantainya yang masih berair atau nyari kulit kerang/keong yang bertebaran di hamparan pantai. Atau ke Pulau Carey untuk menyaksikan suku asli Mah Meri membuat kerajinan tangan lalu menikmati kuliner seafood yang terkenal paling enak itu. Atau melihat kemegahan Kuil Hindu di Gua Batu? Menapaki 272 anak tangga-anak tangga dan takjub dengan keindahan kuil yang dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan tentang legenda Hindu. Ah, decak kagum saya pada negeri ini.

Selesai menikmati Pantai Morib, Pulau Carey dan Gua Batu, lanjut lagi (mengkhayal) ke Kuantan Fireflies. Keunikan terus berlanjut dengan menikmati suasana malam dengan kelap-kelip kunang-kunang yang menghiasi pepohonan hutan Berembang di tepian sungai Kuala Selangor saat gelap malam. Akan seperti berada dalam dunia mimpi melihat hiasan pohon-pohon dengan ribuan kunang-kunang. Cukup duduk santai dan rileks di dalam perahu yang melaju pelan menyusuri tepian sungai. Ahhh luar biasa! Priceless!

My Selangor Story

Cerita tentang keindahan Selangor akan lebih panjang lagi jika saya diberi kesempatan untuk bisa menikmati semua itu secara langsung. Ada begitu banyak tempat wisata yang menanti untuk saya kunjungi, begitu banyak tempat dengan berbagai keindahan untuk saya ceritakan ke orang-orang.

Sungguh akan menjadi sebuah kehormatan pula bagi saya kalau bisa masuk ke dalam 30 finalis dan mewujudkan keinginan saya untuk menikmati kemasyuran negeri Selangor dengan keindahah alam, keunikan dan keragaman budaya yang dimiliki. Dengan jiwa adventure dan fotografi yang saya miliki dan keinginan untuk mengenal dan belajar tentang kebudayaan akan membantu saya untuk memberikan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat Aceh khususnya dan kepada masyarakat Indonesia dan internasional untuk mengenal Selangor lebih dekat lagi.

Ah, saya sudah tidak sabar lagi untuk mengupdate timeline Twitter, Facebook dan social network yang lain untuk membagi informasi-informasi perjalanan menarik saya nantinya jika terpilih. :D

Sumber foto : http://www.cuti.com.my, http://www.dslrfanclub.com

P.S. Mohon bantuan kawan-kawan semua untuk mem-VOTE di sini ya.. >> http://www.myselangorstory.com/ayo-jalan-jalan-ke-selangor/

Terima kasih.. :)

Pengalaman pertama backpacking ke Sabang

Ketika rencana tak berjalan seperti yang diharapkan, hasilnya bisa macam-macam. Hasil yang kurang memuaskan sering kali terjadi. Dan begitu juga backpacking saya kali ini. Sekalipun tidak begitu memuaskan tapi tidak pula begitu mengecewakan.

Pulau Weh

Perjalanan ke Pulau Weh pada awalnya direncanakan pada minggu kedua di bulan Maret. Segala sesuatunya sudah saya siapkan, beberapa tujuan ke objek wisata sudah ditentukan. Tapi…ah dasar saya yang tidak konsisten pada rencana! Ketika ada teman yang mengajak ke Sabang langsung saya iyakan.

Akhirnya saya memutuskan berpergian dengan budget Rp. 500.000,-. Saya menantang diri sendiri apakah dengan budget segitu saya mampu survive di Pulau Weh selama dua hari? Cekidot! :p

Bisa dibilang kalau perjalanan saya ini adalah semi backpacking. Karena teman jalan saya ini bukanlah tipe backpacker yang mau mendapatkan harga yang murah. Jadi kadang-kadang saya harus mengalah untuk beberapa hal.

Kami berangkat dari Meulaboh pada hari selasa malam menaiki mobil travel dengan tarif 120.000 rupiah (padahal bisa hemat 20.000 jika naik L300) dan menginap di Wisma Sacita di Peunayong. Letaknya tepat di depan Sulthan Hotel. Harga kamar termurah di wisma ini 100.000. Cocok lah untuk backpacker.

Sekitar jam setengah sebelas siang, kami berangkat ke pelabuhan Ulee Lhee menaiki (lagi-lagi saya harus ngalah) taksi! 30.000/orang. Padahal kalau naik becak dengan uang segitu bisa untuk bertiga. Tapi ya sudahlah. Lha saya dibayarin! :p

Berlayar dengan Kapal Lambat (slow ferry) dari Ulee Lhee ke Balohan menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Beberapa sopir angkot menawarkan jasanya. Setelah tawar menawar, kami mendapatkan sopir yang mau membawa kami ke Iboih dengan harga 30.000 dari 50.000.

Sesampai di Iboih saya langsung nyari bungalow untuk menginap. Melewati jalan setapak yang menaiki bukit kecil berbatu. Ada banyak sekali pondok-pondok kecil beratapkan daun nipah berdiri di lereng-lereng bukit dan di atas bebatuan karang. Untuk harga kamar di tiap bungalow bervariasi. Tapi pada umumnya mereka menetapkan tarif sesuai letak bungalow. Yang di tepi pantai harganya berkisar antara 200ribu s/d 350ribu. bungalow yang letaknya di lereng bukit atau yang agak dekat pantai harganya berkisar 150ribu s/d 200ribu dan bungalow yang agak jauh dari pantai atau posisinya di atas bukit antara 100ribu s/d 150ribu. Semakin lama kita menginap semakin murah pula harganya.

Tapi sebenarnya harus pintar-pintar juga menawar sama yang punya bungalow dan mau bercapek –capek nanya ke setiap bungalow. Nanti saya kasih daftar bungalow dengan tarif yang negotiable.

Teman saya mendapatkan bungalow di O’ong’s bungalow. Setelah beberapa lama menunggu sambil memasang wajah kecapaian dan putus asa akhirnya saya mendapatkan juga kamar murah di Mama Mia! Cuma 100.000 untuk dua malam. Haha…ternyata saya punya bakat acting yang lumayan. :p

Di setiap bungalow, mereka memiliki restaurant sendiri yang sebenarnya sama sekali tidak berbentuk restaurant. Menurut saya seperti kios makan biasa di pinggir jalan. Hanya saja menunya yang ala barat dan mahal pastinya. Mereka memasak sesuai dengan pesananan. Uniknya yang memasak adalah pemilik bungalow itu sendiri. Saya merasa lucu ketika mendengar mereka berbahasa inggris dengan bule-bule.

“eat, mister? What you want to eat? Ooo Acehnese food? Spicey! Your friend eat curry just now then go…goooo…”. “you want barracuda?banana milkshake?wait ya…”

Beberapa koki yang lain cukup dengan sepatah dua patah kata saja. “noodle?” “with ketchup?” “oke, coffee” “with sugar?” (maaf, bukan untuk meledek. Bahasa Inggris saya juga hancur kok! :p )

Setelah mendengar banyak tentang pelayanan para koki-koki itu saya mencari tempat untuk snorkeling. Ada beberapa tempat yang saya lihat ada bule yang melakukan snorkeling. Tapi tempat yang paling bagus untuk itu ada di Yulia’s, bungalow ini adalah bungalow terakhir di Iboih. Tentu saja letaknya paling jauh.

Suatu pagi di Iboih

Taman laut di sini yang menurut saya paling bagus. Terumbu karangnya lebih beragam dengan ikan-ikan yang luar biasa cantik, berwarna-warni dan biota laut yang mengagumkan. Biasanya cuma liat di tivi, kali ini saya bisa melihat langsung dan berdekatan pula dengan mereka. :D

Wow. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa. Ini juga pengalaman pertama kalinya saya snorkeling dan merasakan kepanikan yang menggelikan karena belum terbiasa bernafas dengan alat bantu. Tapi lama-lama terbiasa juga. Snorkling di hari pertama benar-benar mengesankan. Tidak hanya dikelilingi ikan dan terumbu karang tapi juga dikepung ubur-ubur! Tepatnya bayi ubur-ubur! Saya merasa seperti Spongebob yang mengapung di permukaan air dan bayi ubur-ubur itu sesuka hatinya menyengat saya.

Beberapa kali saya terkena sengatan dan kulit saya jadi gatal-gatal karena bersentuhan dengan ubur-ubur. Mungkin sekitar setengah jam saya menikmati panorama bawah laut dan akhirnya saya menyerah dengan bayi ubur-ubur yang ‘kegatalan’ itu.

Hari kedua. Kamis. 25/02/2010

Saya ingin ke Gapang. Tapi uang saya tidak memungkin lagi untuk menyewa motor yang seharga 80.000/hari. Saya cari akal bagaimana caranya supaya dapat menyewa motor dengan harga miring. Kebetulan sekali Mama Mia menanyakan saya ingin ke mana hari ini. saya bilang deh mau ke Gapang. Tentu dengan keluhan saya tentang harga sewa yang mahal plus pasang wajah kere. Gayung pun bersambut! Si Mama menawarkan motornya ke saya dengan syarat membantunya berbelanja.

Pantai Gapang

Siiiip! Saya bersemangat empat lima membonceng Mama ke pasar dan keringat bercucuran ketika menenteng belanjaan Mama dari kampung di bawah sana menaiki bukti demi bukit ke bungalownya. Beban yang saya bawa adalah sekantung plastik besar berisi sayur-sayuran berat seperti kol dan sekantung plastic besar penuh dengan ikan laut segar.

Alhamdulillah. Saya berhasil juga ke Gapang dan saya terbengong-bengong melihat Gapang yang sepi! Damn! Kirain di sini bisa berenang! Saya paling tidak bisa nyebur ke laut kalau tak ada orang lain yang juga ikut nyebur. Dari ujung ke ujung tak ada pengunjung. Beberapa bule sedang bersiap untuk diving. Lah..saya mana punya uang buat diving! Lalu saya kepikiran untuk ke Tugu Nol Kilometer. Tapi ketika melewati Iboih, saya terima telepon dari teman saya kalau mereka mau snorkeling. Saya segera membatalkan ke Tugu dan pulang ke Iboih untuk snorkeling. Toh saya sudah pernah ke Tugu.

Bahasa dan karakter

Saya pikir, bahasa daerah Pulau Weh berbeda dengan bahasa Aceh pada umumnya sering digunakan di Banda Aceh. Ternyata bahasa daerah di Pulau Weh tidak jauh berbeda dengan bahasa Aceh umumnya. Walaupun terbata-bata saya mampu juga berkomunikasi menggunakan bahasa Aceh dengan mereka.

Ini adalah penilaian yang bersifat individual. Hanya penilaian pribadi saya saja tentang karakter warga Iboih yang menurut saya cenderung keras namun ramah. Mereka adalah pribadi yang enak diajak ngobrol dan mau bercerita. Mama, pemilik bungalow tempat saya menginap malah sering curhat tentang anak-anaknya, tentang prilaku pengunjung dan pandangannya terhadap perubahan pada masyarakat karena kehadiran turis-turis mancanegara di kampung mereka.

Berikut adalah daftar-daftar bungalow dengan harga kamar yang (sebenarnya) bisa nego :

  1. Bungalow Fatimah (unrecommended) bungalow-bungalownya kotor, tak terurus.
  2. Mama Mia, harus pintar ngambil hati si mama, tapi jangan terlalu manja. Ingat, mereka adalah orang-orang yang keras dan terbiasa gaul sama bule!
  3. Olala, yang punya bungalow ini pria Jerman. Istrinya juga merangkap sebagai koki. Kalau sama istrinya susah minta kurang harga kamar. Tapi saya tidak ketemu sama suaminya.
  4. O’ong. Yang punya cewek. Pintar-pintar nawar deh. Ingat, bungalow yang jauh dari pantai lebih murah!
  5. Yulia’s bungalow. Pengelolanya cowok-cowok enerjik dan pintar masak. Bungalow yang paling atas (jauh dari pantai) lebih murah.

Ada satu bungalow yang teman-teman backpacker lewatkan aja, yaitu Iboih Inn. Bungalow paling mewah yang ada di Iboih. Harganya juga mahal. Jangan harap bisa nego harga. Semua kamar di sini memiliki kamar mandi di dalam.

Ingat lho…kalau mau menawar harga bungalow yang di posisinya jauh dari pantai tarifnya lebih murah. Kalau beruntung bisa dapat 30.000/malam! Jadi siapkan argumentasi kalau mereka menyodorkan tarif yang mahal untuk bungalow yang jauh dari pantai. J

Berikut adalah rincian biaya yang saya keluarkan selama di Pulau Weh.

  1. Bus (travel) Mbo – Bna : 120ribu
  2. Penginapan di wisma Sacita-Peunayong : 100ribu (bagi dua : 50ribu)
  3. Taxi (Peunayong-Ulee Lheue) 30ribu/orang (lbh bagus naik becak, ongkos 30ribu per/trip)(dibayarin)
  4. Slow ferry : 17ribu (dibayarin juga) :D
  5. Angkutan Balohan-Iboih : 30ribu/orang (dibayarin lagi) :p
  6. Penginapan (Mama Mia bungalow) : 50ribu/malam <<bisa nego  (dua malam = 100ribu)
  7. Makan di warung di kampong Iboih : 10ribu 2x makan = 20ribu (pake telor + tempe = MAHAL!!!)
  8. Sarapan nasi bungkus (nasi uduk + lauk ikan balado) : Cuma 6ribu saja (murmer!)(2x makan : 12ribu) beliin buat kawan 2 bungkus : 12ribu. total : 24ribu
  9. Sewa snorkle : 15ribu/item/hari (2 hari : 30ribu.hari pertama bayar sendiri, hari kedua dibayarin kawan) total : 15ribu.
  10. Pinjam motor (gratis karena bantuin Mama Mia belanja) isi bensin seliter : 7ribu
  11. Beli minum Aqua ukuran gede di kampung 3 botol : 6ribu/botol = 18ribu, di Yulia’s bungalow : 7ribu. total : 25ribu
  12. Beli rokok (not for me yaa) : 12ribu (A Mild 2 bungkus)
  13. Pulsa : 23ribu
  14. Ongkos mobil dari Iboih ke Balohan : 50ribu/orang (dibayarin(bisa dipesan aja di tiap bungalow)) kalo di kampung bisa dapat 40ribu (tp harus pinter ngomongnya :p)
  15. Ojek dari Balohan ke Kota Bawah Sabang : 20ribu. Narik duit di ATM lg L
  16. Kapal cepat : 60ribu/orang. 3 orang  = 180ribu (tarif ekonomi dewasa) <<g ada pilihan lain krn pulang hari jumat dan budget ludes.
  17. Becak dari Ulee Lhee ke Peunayong : 40ribu

Total seluruhnya : 616ribu! (free : 147ribu)

Kesimpulannya : budget 500.000 ga cukup untuk bertahan hidup di Iboih selama dua hari!!

19 Oktober, motor, sepeda dan tanggal keberuntunganku

Setahun yang lalu sejak saya memutuskan untuk memiliki sepeda dan mengambil keputusan berat yaitu menjual sepeda motor yang dibeli pada ulang tahun saya yang ke 21. Begitu juga sepeda ini. Saya membelinya ketika saya berusia 22 tahun. Semuanya begitu tepat pada saat saya menggenapi usia yang terus berkurang.

Bang Yos 075

Red Horse

Tanpa disengaja sebenarnya. Ga tau juga kenapa harus membeli kendaraan itu justru bertepatan pada tanggal 19 Oktober. Tiba-tiba ada aja rejeki buat ngebeli motor dan kemudian sepeda pada tanggal itu. Alhamdulillah. Artinya tanggal itu memang berkah. Dan semoga selalu diberikan berkah itu, ga cuma ke saya tapi ke setiap orang. Amiiiin… Hehe..

Semenjak motor terjual dan sepeda inilah yang terus menemani. Ke kantor, olahraga, belanja dan apa aja deh pasti dengannya terus.

biking 026

Masih baru, masih kinclong!

Konsekuensinya adalah saya ga bisa lagi ngelakuin perjalanan jauh. Ga  ada traveling dengan motor lagi. Cita-cita keliling Aceh naik motor pun harus saya gantung dulu dan berharap akan datang kesempatan untuk ngelakuin itu lagi. Amin…

Setiap bulan, setiap kali akan ke Banda Aceh selalu saja kesempatan untuk traveling yang bisa saja saya lakukan harus disimpan lagi dalam-dalam. Gantinya have fun aja  deh di Banda Aceh. Hunting dvd atau ke Lampuuk. *sigh*

Btw, nyesal ga sih motorku dijual dan ga bisa traveling lagi? Hmm…ya…nyesal… Ga bisa lagi pulang kampung dan ngelakuin hal-hal gila yang mungkin ga pernah dipikirin orang. Hal gila yang tiap kali ketemu sungai pasti nyebur di tempat sepi. DOH!

Ga bisa lagi ngebut 100KM/jam. Kebut-kebutan dengan truk! Ga bisa lagi ngerasain adrenalin rush ketika nyaris menabrak dan atau ditabrak kenderaan lain. Ga ada lagi deh kehujanan di tengah jalan. Ga bisa lagi ngeliat pemandangan-pemandangan indah (dan mengerikan) selama perjalanan.

Yah, andalanku sekarang adalah kalo motor yang aku jual ke abang sedang nganggur selama seminggu. Baru deh bisa aku bawa buat traveling. Alhamdulillah, kesempatan itu pun datang! Gila aja..seperti ngedapatin durian runtuh aku minta pinjam dan aku bawa ke Banda Aceh. Syukurnya bertepatan sekali pas di jadwalnya Laporan Keuangan di kantor wilayah Banda Aceh.

Well, tunggu cerita pengalaman saya yang bagian ini di tulisan selanjutnya ya… :)

Backpacker

Backpacker. Orang yang memanggul ransel untuk traveling baik untuk treking dan kemping ke gunung atau juga traveling untuk mengunjungi kota-kota. Biasanya yang berbackpacking adalah orang-orang yang tidak mau ribet. Cukup dengan satu ransel saja tanpa harus memberatkan diri dengan membawa koper-koper dan banyak perlengkapan seperti turis.

Saya sendiri juga sudah mencoba bertraveling ala Backpacker ini. Awalnya terinspirasi dari membaca novel yang berjudul Traveler’s Tale membuat saya nekad bepergian sendiri dengan ransel di punggung. Luar biasa!!! Kesan pertama begitu menggoda. Amat sangat menyenangkan.

Tentu saja semua harus dipersiapkan sejak satu bulan sebelum keberangkatan. Begitu yang saya pelajari. Sekalipun rencana traveling masih dalam provinsi tapi transportasi dan segala biaya-biaya harus diperhitungkan. Juga informasi tentang destinasi yang akan kita kunjungi.

Waktu itu saya mengunjungi Pulau Banyak di kabupaten Aceh Singkil. Saya mencari segala informasi yang berkaitan dengan Pulau itu. Tentu saja objek wisata masuk urutan paling atas. Transportasi menjadi kendala utama bagi saya selama berada di pulau itu. Karena menurut informasi yang saya dapatkan biaya transp
ortasi dari satu pulau ke pulau yang lain sangat mahal.

Saya memutuskan bepergian ala backpacker begitu selain praktis juga karena untuk menghemat biaya. Secara saya hanya karyawan kontrak yang berpenghasilan sebatas UMR saja makanya semuanya harus sesuai dengan budget yang tersedia. Terkesan maksa sih tapi ya saya harus coba ini. Dan syukurnya sukses.

Backpacking sungguh dan sangat menyenangkan! Saya menyarankan ini bagi anda yang berjiwa petualang dan ingin merasakan petualangan seorang diri atau bersama teman-teman dan menjalani kehidupan yang berbeda dari yang biasa anda jalani. Saya mendapatkan banyak sekali pencerahan dan banyak hal baru yang saya temui dan saya pelajari. Ini berbeda dengan ‘jalan-jalan’ yang mungkin sering anda lalui. Cobalah sesuatu yang berbeda. Memasuki suatu daerah asing yang tak pernah anda datangi dan mencoba hidup seperti kaum hippies. Tinggal di losmen murah ataupun di rumah penduduk. Makan dan minum di warung-warung pinggir jalan, bergaul dengan penduduk lokal dan belajar tentang kultur mereka.

Hahhhh…Saya jadi ingat kembali ketika saya di Pulau Banyak dulu. Ini sangat berkesan bagi saya. Mengobrol dengan masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat di sana sungguh pengalaman yang luar biasa. Kehujanan ketika perjalanan pulang dari sebuah pulau lalu berhenti singgah di sebuah kerambah ikan kerapu. Melihat nelayan memberi makan anak-anak ikan kerapu dan tersenyum penuh arti melihat anak-anak yang berenang di laut yang biru. Lepas. Bebas. Juga ketika berjalan kaki di suatu sore mengelilingi pulau. Menyaksikan ibu-ibu yang pulang dari ladang dan tertawa lepas bersama dalam canda. Bertemu dengan teman-teman kecil saya yang luar biasa. Sungguh hebat anak-anak itu.

Sungguh berharga. Saya selalu ingin kembali ke sana lagi. Dan keinginan itu bertambah kuat saat menulis ini. Ya Tuhan… Hati saya menggebu…

Teman-teman kecil saya yang sudah bersedia menjadi penunjuk jalan.

Berdiri di sana Bang Jhoni dengan boatnya yang mengantarkan saya ke Pulau Palambak. Salah satu pulau yang paling dikenal oleh para turis manca negara. Sila buktikan di Google. Saat ini sudah ada dua bungalow yang berdiri di sana. Saya berharap para turis akan segera datang kesana.

Pembangungan sebuah bungalow di Pulau Palambak. Dari keterangan pemiliknya mengatakan bahwa bungalownya akan segera buka. Mungkin saat ini sudah bisa ditinggali.

Mau ?