Wo Ai Ni

What’s uuuupp…. ini dia saya temukan juga. Bagaikan tersadar dari tidur panjang. Seperti akhir dari sebuah perjalanan panjang dari pencarian selama ini.

Ini cinta…adalah hujan dan matahari. Menyejukkan ketika panas. Dan menghangatkan ketika sepi. Sepi terhapus lalu berselimut hangat. Namun cinta ini juga menyejukkan hati ketika amarah bergemuruh. Cieee…

Hei. Ini cinta! Saya makin percaya. Tak perlu ke Paris untuk menemukan cinta. Saya menemukannya tadi. Sore ini. Dan sore ini saya tak mampu berbicara banyak. Hilang sudah semua dari kepala ini. Woah…kalian tahu? Hari ini adalah hari terindah. Dia mengguyurku dengan siraman air surga. Setiap tetesnya menusuk-nusuk kulit dan membersihkan segala kotoran dari sana.Mengompres kepalaku dan menguapkan segala amarah dan frustrasi yang selama ini menindas. Terbang melintas di dalamnya akan perjalanan-perjalanan panjang yang berkesendirian.

Tapi semua perjalanan itupun bukan sia-sia. Semua penuh makna rupanya. Seperti bulan puasa ini. Sarat makna. Tentu saja. Tak ada yang tercipta dengan kesia-siaan. Uuuuw…pintar bicara saya sekarang. Hahaha…kau pun tak bisa melihat betapa riang saya saat ini. Saya tersenyum bahagia. Lihat, ada senyum di bibir saya dan tawa di dalam hati ini. Bersuka cita.

Langit pun kembali bersinar cerah. Rupanya dia tahu apa yang terjadi pada diri saya. Awan-awan putih menggumpal-gumpal bercahaya. Awan kelabu pun menyingkir pergi diteriaki walet-walet yang berterbangan. Saling silang di atas sana.

Jangan iri ya… kau pun dapat menemukan cinta itu. Mungkin bukan hujan dan matahari seperti cinta ini. Bisa saja seorang bidadari atau…atau walet-walet itu mungkin. Mungkin saja cintamu itu adalah uang. Atau emas dan perak atau bahkan seekor keong.Oh ya sudah…jangan takut. Semuanya kebagian. Tenang saja.

From Bandung with Love

Akhirnya saya selesai juga menonton film yang dibintangi oleh Marsya Timothy dan Richard Kevin ini tadi malam. Padahal VCD-nya sudah saya beli tiga minggu yang lalu. Akibat keseringan ke Tapak Tuan jadinya banyak film-film yang teronggok di kamar.

Usai menyaksikan Pekan Olahraga Pelajar Daerah ke sepuluh di Tapak Tuan saya kembali memunguti bungkus-bungkus dvd dan vcd saya untuk ditonton. Saya start dengan From Bandung With Love.

Film drama yang disutradarai oleh Henry Adianto ini lumayan dalam sih. Tepatnya ‘sok’ dalam tapi tetap memiliki nilai yang berarti buat saya secara pribadi. Tersebut seorang Vega, penyiar radio yang sedang melakukan riset tentang kesetiaan. Vega terjebak antara dua pria. Dion, pacarnya dan Ryan yang menjadi objek penelitiannya. Dia harus memilih antara dua namun akhirnya tidak ada pilihan untuk seorang laki-laki.

Yah, begitulah kata Iwan Fals dalam lagunya Aku Bukan Pilihan. Salut saya untuk akting Richard Kevin dan Marsya Timothy. Keduanya tampil dengan penjiwaan yang pas untuk peran mereka. Ya iyalah! Tapi betul, saya suka akting mereka berdua dalam film ini ketimbang dalam film mereka yang lainnya seperti Otomatis Romantis dan Get Married.

Semua bisa terjadi dalam 6 hari. Benar ternyata. Itu yang terjadi dalam diri Vega. Dan juga di diri kita. Menjadi tidak setia tanpa sadar telah terjadi di dalam diri sehingga terus bersembunyi dari balik kesetiaan yang selama itu kita miliki. Mulai terpengaruhi tapi masih tetap mencari pembelaan untuk pembenaran. Lalu kesetiaan itu menjadi sebuah kebohongan.

Saya pikir-pikir, begitu susah untuk setia. Tapi begitu mudah untuk melanggar kesetiaan itu sendiri. Yeah, pengalaman pribadi juga sih. Hahaha…Dan tidak ada yang saya dapatkan kemudian. Begitu juga Vega. Tak ada yang dapat diselamatkannya. Tapi semua berhikmah pastinya. Sebuah pelajaran untuknya dan saya dan yang menonton film ini tentunya ya…