Bersepeda di Punggung Bukit Panggoi

Bersepeda di punggung bukit Panggoi

Istirahat sebentar di atas bukit Panggoi setelah bersepeda sekitar 3 kilometer dari Kota Lhokseumawe. Kamera aku taruh di atas sebuah batu hitam bekas pos penjagaan masa penjajahan Jepang dulu. Di belakangku itu lereng curam yang dasarnya ditumbuhi pepohonan. Bukit ini juga digunakan sebagai jalan pintas para pencari tiram di Krueng Cunda dari Gampong (kampung) Paloh yang letaknya di balik bukit.

Sakitnya Mendaftar CPNS! (Part 3)

Bangun subuh, shalat dan mandi. Manasin motor sebentar dan berangkat ke warung untuk membeli kue-kue. Sudah kebiasaan di kampung kalau sebelum sarapan dihidangkan kue-kue. Tapi ternyata disini cuma ada donat dan energen. Tidak ada warung kopi dan penjual bermacam-macam kue seperti di Meulaboh.

Sudah agak terangan sedikit, kami berkemas lalu pamit ke sodaranya Iwan (anehnya Iwan sendiri ga tau nama abang itu) LOL.

Perjalanan kali ini benar-benar melelahkan, kami harus berputar-putar, naik-turun, meliuk-liuk mengikuti jalan beraspal yang menyusuri pegunungan yang gundul. Ratusan hektar pegunungan tidak lagi ditumbuhi pohon tropis. Semuanya teratur rapi pohon kelapa sawit. Pemandangan yang mengenaskan buatku.

Dua jam perjalanan membawa kami memasuki kota Subulusalam. Setelah berpenat-penat melintasi pegunungan dan sekarang kami berjuang untuk mendaftar cpns. Aku ketemu Dewi dan mencari seseorang yang bisa dibayar untuk menuliskan surat lamaran. Ternyata kami masih harus menunggu berjam-jam lagi untuk dapat giliran. Akhirnya inisiatif sendiri, aku meminta Dewi untuk menuliskan surat-suratnya. Bermodalkan kertas bergaris dan kerta HVS akhirnya Dewi yang menuliskan surat-surat kita semua. Iwan sudah siap dengan sogokan sepiring lontong untuk Dewi dan aku dengan sabar menunggu di samping.

Beberapa kali salah tapi Dewi terus moved on menuliskan empat lembar surat untuk aku, Iwan dan Dika dan untuk dia sendiri tentunya. Setelah selesai semuanya, aku masukkan ke masing-masing map berikut berkas-berkas pendukung lainnya dan aku masuk ke dalam arus puluhan pendaftar di depan loket pendafataran di kantor walikota.

3

Suasana loket pendaftaran cpns di kantor walikota Subulusalam

Aku berdesak-desakan menanti nama kami dipanggil jika surat lamaran kami ada yang salah dan harus dikoreksi. Sejam, dua jam, tiga jam aku berdiri di tengah-tengah desakan manusia dengan berbagai aroma dan tingkah. Ada yang meneriakan setiap nama yang dipanggil dari dalam kantor dan para peserta lainnya pun menyahut dengan teriakan nama lalu mengoper map yang berkasnya salah ke pemiliknya di belakang.

Keringat mengucur di punggung dan tangan, betis terasa sangat pegal dan kerongkongan kering. Aku menyerah dan memilih menunggu di belakang saja. Aku membeli tiga botol air dan membagikannya ke kawan-kawan. Tak ada tempat duduk selain teras kantor yang kotor.

Nama kami tetap tak kunjung dipanggil bahkan hingga jam makan siang tiba. Loket pun ditutup. Kami ke warung di dekat rumah tempat Dewi menginap. Di depan warung terpampang pamflet besar berwarna coklat yang bertuliskan CV Mentari Tour dan beberapa mobil L300 diparkir menutupi jalan masuk warung. Setelah makan pun, rasa pegal di betis dan di pinggang tetap tak mau berkurang. Hanya shalat zuhur yang mengobatinya. Dan hujan pun turun dengan anggun mendinginkan semua persendian kami.

Ngilangin penat dengan memfoto orang

Jam dua lewat, pendaftaran pun ditutup. Sekarang petugas masih terus meneriakan nama-nama peserta yang surat lamarannya salah. Kesalahan kecil seperti penulisan “foto copy” yang seharusnya tidak ada spasi antara foto dan copy. Atau peserta lupa menuliskan nama di belakang cetakan foto. Ada juga yang peserta yang tidak mengerti menuliskan surat lamaran. Beberapa kali petugas mengembalikan surat lamaran yang tidak dituliskan formasi apa yg dilamar.

Seluruh kaki kembali mengalami pegal yang hebat, pinggang benar-benar sakit sekali sekarang. Entah kesabaran darimana pula sehingga aku betul-betul sungguh sekali menanti nama kami dipanggil. Sedangkan Iwan dan Dewi menunggu dengan bosan di luar lingkaran peserta yang berdesak-desakkan. Kemudian nama Iwan dipanggil. Ternyata surat lamarannya ada yang salah. Tempat lahirnya tidak sesuai dengan ijazah. Di ijazah dituliskan Rotteungoh, tapi di surat dituliskan Rotteungoh, Meukek. Iwan kembali meminta bantuan Dewi untuk menulis ulang suratnya di depan kantor Wakil Walikota.

5

Jenuh

Jam setengah empat sore, kami terus menunggu dengan harapan tidak ada surat kami yang harus dikoreksi. Seorang peserta asal Medan sudah memasukkan berkasnya pada jam 9 pagi tadi tapi hingga sekarang belum juga dipanggil. Alhamdulillah, namaku dan Dika dipanggil dan petugas menyorongkan dua lembar kartu pendaftaran. Dewi semakin ga sabar karena namanya belum juga dipanggil. Padahal berkas-berkas kami sudah aku masukin sekalian jam 11 tadi. Sekitar jam empat, nama Dewi pun dipanggil dan menerima kartu pendaftaran.

Lalu kemana Iwan? Hapeku bergetar, Iwan is calling. DOH!!! Ternyata dia sedang santai duduk di sebuah kios voucher pulsa di samping kantor. WT*! Perasaan aku sedari jam sebelas tadi nungguin semuanya tapi kok dia yang tumbang duluan? Huhh…pengen kesal tapi entah kenapa kok saat itu aku ga bisa kesal. Yah, sabar emang ga ada batasnya. Aku menunggu lagi di sana bersama dengan puluhan pendaftar yang mulai kecapean. Alfian, anak Medan yang tadi aku ajak ngobrol bernasib sama dengan Iwan, suratnya harus diperbaiki lagi. Lalu nama Iwan pun dipanggil, aku menerima kartu pendaftarannya.

Kami berdua istirahat sebentar di kios voucher yang rupanya pemiliknya adalah mantan pacarnya Iwan waktu di Meukek. Dan berkat suami mantan pacarnya itu pula berkas Iwan bisa diterima lagi, padahal berkas-berkas pendaftaran sudah tidak bisa lagi dimasukkan jika sudah lewat jam 3 sore.

Kami shalat di mesjid yang ga jauh dari kantor walikota, lalu tancap gas kembali pulang ke Bakongan.

Eksotisme Pulau Simeulue

Keindahan pulau Simeulue memang akan membuat decak kagum siapa saja yang melihatnya. Terlebih lagi kalau kita melihatnya dari atas kapal ferry yang memasuki teluk Sinabang. Pulau-pulau yang mengelilingi pulau Simeulue semakin cantik dengan sunrise yang menyinarinya.

b1

Saat-saat sunrise inilah pesona pulau Simeulue begitu menakjubkan.

b3

Keindahan ini yang membuat saya begitu semangat jika harus dinas ke kabupaten Simeulue. Tapi jika sudah sampai ke pulaunya, perasaan malas pun datang. Bagaimana tidak, jalanan kota Sinabang dipenuhi lubang dan jika cuaca sedang panas terik, debu beterbangan setiap kali ada kenderaan lewat.

Mari sekilas kita melihat keadaan kota Sinabang yang sekian tahun belum juga mengalami perubahan yang berarti sejak pertama kali saya datangi sekitar dua tahun silam. Beberapa foto di bawah ini berhasil saya rekam sebelum batere kamera saya habis. Hehe…

Pasar Baru

Pasar Baru

Dulunya, sebelum bangunan ini dibangun tempat ini adalah pasar tradisional yang kemudian digusur karena pembangunan. Sampai sekarang bangunan baru tersebut belum juga digunakan.

Mesjid Agung

Mesjid Agung

Adalah mesjid tertua di Sinabang. Bangunannya masih terbuat dari papan dan sangat sederhana sekali. Letaknya berdekatan dengan pelabuhan penyeberangan ferry dan berhadapan dengan Polsek Simeulue Timur.

Polsek Simeulue Timur

Polsek Simeulue Timur

Mengapa saya juga mengupload foto kantor Polsek ini? Karena beberapa hari yang lalu saya menerima sms dari salah satu pembaca blog ini dan bertanya tentang keamanan di kota ini. Saya menjawab tidak perlu khawatir deh di sini. Keamanan terjamin. Cuma kesehatan yang harus dijaga sendiri. Ga mungkin orang lain yang menjaga kita. :)

Pertokoan (1)

1

Pertokoan (2)

2

Dua foto di atas merupakan pusat pertokoan dan warung di kota Sinabang. Pada foto nomor 2 ada bangunan berkubah yang belum selesai. Katanya bangunan itu bakal gedung Islamic Center di daerah ini.

Bekas kebakaran

Bekas kebakaran

Terjadi pada bulan Februari 2009 lalu. Hingga kini sudah beberapa toko yang kembali dibangun. Kebakaran terjadi diduga dari ledakan tabung gas.

27042009 012Beginilah suasana di salah satu bekas pertokoan bekas tsunami yang ditempati oleh pedagang kaki lima.

27042009 013Pemukiman penduduk yang masih bersebelahan dengan pusat pertokoan. Di sini rumah-rumahnya rapat-rapat sekali dan hampir semua bangunannya terbuat dari bahan papan.

Zona Debu

Zona Debu

Kita memasuki daerah paling berdebu se-Sinabang! Bagi pengendara motor siapkan helm dan masker penutup hidup karena debu yang beterbangan bisa menyebabkan ISPA! Pada sisi kanan ini jalanannya beraspal sampai 200 meter ke depan dan jalan selanjutnya kembali berlubang dan penuh debu jika dilewati. Pada sisi kiri memang sudah hancur lebur, penuh lubang dan debu.

Padahal jalan ini merupakan jalan utama menuju pusat perkantoran dan bandara Lasikin. Syukurnya proyek pengerasan pada ruas jalan ini sudah berakhir. Warga dan wisatawan pun bisa berlalu lintas dengan aman dan nyaman. Saya yakin ke depannya Pulau Simeulue dapat menyaingi ketenaran Pulau Weh. Karena di Pulau Simeulue juga terdapat pantai sebagai lokasi surfing dan dapat meningkatkan kedatangan para wisatawan luar negeri. Karenanya pemerintah kabupaten Simeulue harus segera berbenah dan meningkatkan pelayanan untuk dapat bersaing dengan daerah lain dalam menggerakkan program Visit Aceh.

Road to Sinabang

Jumat, 26 Desember 2008
KM Teluk Singkil

Blogger… ini foto-foto saya dan tim ketika dalam kamar ABK yang kita sewa untuk ke Sinabang. Waktu di Meulaboh, kami sempat kebingungan juga ketika saya mengabari bahwa tidak ada kamar kosong lagi. Tapi untung Bang Maman (sudut kanan bawah, pegang rokok) berkoneksi bagus dengan satu ABK, jadi kamarnya yang sebenarnya sudah dipesan orang lain dapat dicancel untuk kami tempati.

blog1

Tak sanggup bekipeh-kipeh (berkipas-kipas) di dalam kamar karena panasnya yang naudzubillah, juga asap rokok yang terus ngebul dari para perokok super aktif di dalamnya, maka saya memanjat jendela dan ngadem di bawahnya…Ahhhh…leganya…

1

Bang Acon, bersandar pada dinding di luar kamar memandang jauh dalam kegelapan malam. Rokok sebatang pada jari. Entah berapa batang sudah dia bakar di sana. Entah apa pula yang dia renungkan hingga begitu sedih wajahnya. Beliau, salah satu anggota tim kita yang paling bersemangat. Setiap tahun, namanya selalu masuk dalam tim inventarisasi ke Sinabang bersama saya.

blog2

Setelah subuh, kita keluar lagi ke teras kabin. Tentu saja memanjat jendela. Hehe…
Foto diambil oleh Bang Acon. Dari kiri adalah Bang Mukhlis, Bang Andi di tengah dan terakhir adalah saya. Rencananya kita mau bikin Trio Sinabang! Uhui!

blog3

Kami berkesempatan menyaksikan sunrise dari kapal ketika beberapa menit lagi akan memasuki teluk Sinabang dan kemudian berlabuh. Subhahanallah…keren sekali pemandangannya…Sayang, tidak bisa mengupload semua foto-foto indah itu ke postingan ini… Mungkin saya coba upload ke multiply saja.

Ini adalah salah satu pulau terdekat dari pulau Simeulue. Ada banyak pulau-pulau kecil lainnya yang dekat sekali jaraknya tapi satupun saya tak mengenali nama-namanya.

blog4

Finally…tibalah kami di Sinabang dengan selamat. Beginilah keadaan pelabuhan ferry dan sekitarnya. Sayangnya saya lupa mengambil foto suasana sibuk saat bongkar kapal.

blog5

One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru

Gowes Minggu Pagi

Minggu, 23 November 2008

Sudah jam sepuluh lewat aku sampai terkantuk-kantuk menunggu seorang kawan menghabiskan sarapannya. Kami berencana untuk bersepeda atau dengan kata kerennya sekarang gowes atau goes. Rute kami hari ini adalah Mereubo-Rantoe Panyang-Pasi Aceh-Peureumeu-Putim (Danau Geunang Geudong).

Sampai di Mereubo saya mengajak seorang kawan lagi untuk ikut, tapi dia sedang ditugasi menjaga rumahnya. Jadi hanya kami berdua yang bergerak ke lokasi tadi.

Berikut beberapa foto perjalanan kami.

Jembes-Mereubo

Jembes-Mereubo

Ranub Dong

Ranub Dong

Rantoe Panyang

Ranto Panyang

Kejar Buleeee...

Bermain dalam becek

6

Trio Kembang Desa

Ibu-ibu yang sepertinya sedang bergegas ke acara kenduri.

Long road to Lake Geunang Geudong

Jalan panjang menuju Danau Geunang Geudong

???

Istirahat sebentar di atas jembatan

Krueng Woyla

Krueng Woyla

Meulaboh-Putim

Meulaboh-Putim

Lurus atau Kiri, Cit?

Lurus atau Kiri?

i don't wanna die here! take me home, soldier! (?)

Ngaso di sebuah pondok di pinggi danau