Lageun, Pantai di Pinggir Jalan

lageuen-8Pantai Lageun ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan Meulaboh-Calang-Banda Aceh. Jalan beraspal mulus dan lebar ini dibangun berkat bantuan rakyat Amerika pasca tsunami tahun 2004 silam yang selain  mempermudah kembali arus transportasi antar kabupaten di pesisir barat juga mengekspos kecantikan Lageun di kabupaten Aceh Jaya.

Untuk mencapai pantai ini dapat ditempuh dengan sepeda motor atau mobil kurang lebih 2 jam dari kota Banda Aceh atau 1,5 jam dari kota Meulaboh. Tidak ada yang berjualan di areal pantai dan sangat sepi jika didatangi pada hari selain akhir minggu.

Aku lebih senang berada di pantai ini ketika sepi, menikmati tiupan angin sepoi sambil membenamkan kaki ke dalam pasir kasar berwarna kemerahan dan membiarkannya menggelitik telapak kaki. Kerisik daun jarum cemara laut berkaloborasi dengan deburan ombak membuatku sejenak lupa pada teriknya matahari yang membakar. Ah, enaknya kalau pantai ini punya sendiri.

lageuen-7

Meulaboh – Lamno – Banda Aceh

Hahh…Akhirnya kembali online setelah (berhasil) menggelandang selama seharian di Banda Aceh. Haha…

Masih ingat sampai sekarang pas mau berangkat. Ayah menawarkan saya mantel hujan untuk dibawa selama perjalanan. Saya kira tidak akan hujan karena jika lewat Lamno pasti bisa lebih cepat sampai ke Banda Aceh dan sepertinya tidak akan hujan.

Tapi ternyata…sampai di Patek mulai gerimis! Ketika menaiki rakit, hujan mulai turun walaupun pelan tapi pasti. Pasti basah semuanya. Saya terus saja jalan tanpa mempedulikan hujan. Saya tidak tahu sudah sampai di daerah mana pada waktu hujan lebat turun. Benar-benar lebat sekali! Saya memutuskan berhenti ketika melihat sebuah warung kosong. Di depannya ada beberapa pekerja yang juga ikut berteduh. Mereka menggunakan rompi orange. Mereka pasti yang sedang mengerjakan proyek pembuatan jalan itu.

Mungkin saat itu sekitar pukul dua belas. Jaket dan backpack andalan saya yang saya kira tidak akan tembus air ternyata berdusta! Untung saja saya membawa sebuah kantong plastik kresek. Jadi dokumen-dokumen yang saya bawa serta di dalam ransel bisa segera saya selamatkan. Tapi saya terlambat menyelamatkan buku LK sehingga covernya luntur terkena air hujan. Jam satu hujan mulai agak reda. Saya segera bersiap dan melaju kencang lagi. Jalanan beraspal jadi saya bisa bergerak lebih cepat.

Beberapa kilometer kemudian, hujan kembali melebat. Kali ini bersamaan dengan angin laut yang membuat saya seperti sedang meliuk-liuk di jalanan.

Waduh..Saya lupa lagi. Mana duluan saya melalui Lamno atau Lhok Kruet? Sebentar saya buka google dan mencarinya di peta..Heheh…lupaaa…Payah nih Citra…:p

Well, saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan saya kali ini sambil saya mencari tahu mana yang lebih dulu dilalui. Lhok Kruet atau Lamno duluan. Jadi ketika sedang menunggu rakit di…di mana lagi ya..saya jadi lupa lagi nama daerahnya. Anyway, saya naik rakit dengan seorang abang-abang yang juga akan ke Banda Aceh dari Calang. Saya nanya kalau mau naik rakit ke Lamno itu lewat mana. Soalnya saya tidak pernah naik rakit jika pulang ke Meulaboh. Selalu belok kiri melewati jalanan yang sedang dikeraskan itu. Padahal saya bisa menghemat waktu jika naik rakit kalau saja lurus terus memasuki Keudee Lamno itu.

Jadi saya bertanya ke si Abang Calang tadi jalan mana kalau naik rakit ke Lamno. Dia jadi bingung harus menjelaskan lewat mana. Jadi saya mengikutinya dari belakang. Tapi dasar si Abang Calang laju motornya terlalu cepat! Ketika hujan, dia berhenti di sebuah warung. Tapi saya memutuskan untuk lanjut saja. Saya harus mencari tahu sendiri lokasi penyeberangan itu.

Akhirnya ketemu juga. Setelah menempuh jalan yang penuh kerikil dan batu-batu dan becek. Saya akhirnya menemukan jalan ke arah penyeberangan dengan rakit itu. Ternyata ada papan penunjuk arahnya. Alhamdulillah. Saya bisa menghemat waktu hingga setengah jam jika lewat rakit ke Keudee Lamno tersebut.

Hujan masih saja lebat. Tapi dokumen-dokumen saya sudah aman di dalam ransel yang sudah basah itu. Aman terbungkus plastik. Upss… Saya hampir jatuh ketika melewati dermaga setelah turun dari rakit. Hahh.. Saya tidak boleh sampai jatuh.

Memasuki Lhong saya surprise sekali dengan apa yang terjadi disana. Banjir! Tapi banjir ini tidak berbahaya. Masyarakat tidak ada yang mengungsi. Tapi saya harus ekstra berhati-hati karena banjir juga menutupi beberapa ruas jalan raya. Batu-batu kerikil bertebaran dan ikut hanyut bersama air yang mengalir deras di atas aspal. Beberapa lokasi juga ada yang longsor.

Masuk ke Lhoknga hujan mulai berhenti. Udara hangat kembali menerpa wajah dan menggelitik perut saya yang lapar. Saya sama sekali tak ambil pusing dengan pakaian yang sudah basah di dalam ransel sana. Sampai Banda Aceh, saya langsung mencari hotel termurah (:P) langganan saya. Tapi ternyata sudah penuh. Terpaksa, saya harus menginap di hotel termurah (:p) kedua. Di lantai empat, bro! Saya harus menggendong ransel yang sudah semakin berat karena air ke lantai empat. Oh, sungguh suatu penyiksaan lahir dan batin!. Huhu…

Tapi saya sudah tenang karena ada tempat menginap. Awalnya saya mau menginap di rumah adiknya kawan saya di asrama mahasiswa. Tapi dengan keadaan saya penuh lumpur dan serba basah pasti akan sangat merepotkan.

Cerita berikutnya. Kepanikan saya ketika baju yang tak juga kunjung kering! Baca di postingan selanjutnya ya…:)