Bermalam di Bukit Lhok Mee

Sabtu malam, aku tiba di perbukitan ini pada pukul 8. Honda Beat yang aku kendarai membelah pekat malam, melindas karang-karang, menerbangkan debu-debu pasir halus. Ketika tanjakan, ku tarik gas lebih dalam. Bau sangit dari karet kopling tercium karena motor dipaksa menaiki tanjakan di jalan yang berbatu-batu. 10 menit kemudian aku tiba di lokasi yang aku inginkan tanpa tersesat karena sudah hapal betul jalan-jalan setapaknya.

Aku segera mendirikan kemah di samping sebuah pohon setelah sebelumnya membersihkan serakan karang di permukaan tanah datar. Dataran yang kupilih adalah sebuah bukit karang yang menjorok ke laut setinggi 10 meter. Permukaannya sudah sepenuhnya tertutupi tanah dan dilapisi rumput. Tiga batang pohon seukuran paha tumbuh di pinggir tebing. Aku mengikatkan ayunan pada dua batang pohon. Setelah beres, aku menggelar matras di samping tenda dan merebahkan badan, menantang langit.

Hamparan bintang di atasku berkelap-kelip seperti pijar lampu pada perahu nelayan di tengah laut. Merah, kuning, dan biru. Terbingkai dengan awan dan siluet pepohonan. Di ufuk barat, sesekali kilat membelah langit dari balik awan yang perlahan-lahan menutupi pertunjukkan bintang jatuh yang membuatku berdecak kagum.

Aku ingat pada penjelasan seorang mahasiswa astronomi ketika berkunjung ke observatorium Boscha tahun 2012 lalu. Cahaya bintang yang berkelip-kelip karena ketidakstabilan atmosfir di bumi. Dan cahaya bintang yang kita lihat pada malam hari sebenarnya adalah cahaya yang ‘traveling’ selama bertahun-tahun. Jadi cahaya yang kita lihat itu menempuh waktu tahunan hingga mencapai bumi. Contohnya seperti bintang terdekat kedua dengan bumi, Proxima Centauri yang berjarak empat tahun cahaya. Sedangkan cahaya matahari kita menempuh waktu hanya 8 menit saja.

Berbaring di atas bukit dan mata nyaris tak berkedip memandangi ribuan bintang. Takut rugi melewatkan momen bintang jatuh yang hanya terlihat sepersekian detik itu. Gigitan nyamuk pun tak lagi terasa. Suara hempasan ombak pada tebing-tebing karang di cekungan bukit di bawah pun lenyap. Khayalanku membumbung tinggi dan melesat bagaikan kecepatan warp menembus gelapnya ruang hampa di antara gugusan bintang. Tapi aku tidak sedang berada di dalam USS Interprise. Aku tak bisa menentukan tujuan akan berkunjung ke planet mana. Khayalanku terhempas kembali dengan kecepatan warp yang sama ke bumi dengan banyak sekali tanda tanya.

Jagad raya yang maha luas ini, benarkah ada makhluk selain kita yang tinggal di galaksi lain? Romulan? Autobot? Klyngon? Bumi-bumi lain? Romulus? Krypton? Coruscant? Cybertron?

Apakah kita benar-benar sendiri? Aku terlelap dengan membiarkan pertanyaan itu pupus terbawa angin malam.

Angin yang meniup dedaunan pada ranting-ranting di atas ayunanku mendesau halus. Aku perlahan-lahan membuka mata dan desau angin itu bagaikan mantra yang membuat kelopak mata terasa berat untuk digerakkan. Sejenak aku biarkan ‘ruh’ ku kembali utuh ke dalam tubuh hingga aku menyadari keberadaanku di dalam ayunan. Ketika telinga menangkap suara hempasan ombak, aku baru benar-benar sadar sedang berada di mana.

Lhok Mee tak hanya memiliki pantai berpasir putih yang dibentengi dengan pohon beurambang yang tumbuh di depan pantainya. Tapi juga perbukitan karang yang menawan dan penuh misteri sejarah masa lalu Aceh. Lhok Mee terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Sekitar 38 KM dari kota Banda Aceh. Aku sedang berada sekitar seribu meter dari pantai Pasir Putih, Lhok Mee, di sebuah bukit di pinggir laut.

Subuh mulai beranjak pagi. Warna hitam pekat mulai terangkat namun mata masih hendak tertutup rapat.Kantung tidur yang kujadikan selimut teronggok di ujung ayunan. Kutolehkan muka ke kanan. Di balik siluet bukit dan pepohonan tampak awan berwarna biru menutupi ufuk barat tempat matahari akan segera terbit. Warna-warna seperti jingga dan biru muda merayap pelan menyergap awan biru pekat yang menutupi matahari.

Aku berlari ke bukit yang menghalangi pandanganku itu. Dari atas sana aku bisa melihat lebih jelas detik-detik matahari naik meski hanya dari pergerakkan cahayanya saja pada langit dan awan. Matahari sendiri sepenuhnya tertutupi oleh awan itu. Akibatnya, bayangan awan jatuh menutupi pohon beurambang yang tumbuh di depan pantai pasir putih dan pemukiman warga di Dusun Lhok Mee. Aku duduk bersila di atas rerumputan basah dan menikmati gradasi warna-warna ajaib saat matahari mulai bergerak naik dari belakang selimut tebalnya. Indah sekali!

Keindahan mentari pagi ini bukan satu-satunya yang dapat kunikmati di perbukitan kampung penuh sejarah ini, Gampong Lamreh. Perbukitan ini ditumbuhi jarang-jarang pohon jambee kleng (jamblang) dan rumput kering kekuningan. Batu-batu gunung hitam legam terbakar matahari berserakan bersama kotoran sapi dan kambing dan koral-koral laut di sepanjang jalan setapak. Koral-koral ini menjadi pertanda bahwa daratan ini pernah berada di bawah permukaan laut. Di puncak-puncak bukit ini terdapat parit-parit tempat para prajurit Jepang menjaga daerah kekuasaannya.

Jika kita memalingkan wajah ke arah utara, terlihat sebuah teluk berpantai pasir dengan muara sungai yang membelah di tengah-tengahnya. Di pinggir pantai sana terdapat sisa-sisa peninggalan Benteng Kuta Lubok yang terlantar. Naik sedikit menyusuri bibir pantai dan tebing-tebing ke sebuah bukit yang terkenal dengan Benteng Inong Balee. Di pinggir tebing setinggi 20 meter itulah para laskar perempuan Aceh di bawah pimpinan Laksamana Malahayati mengintai kapal-kapal Belanda. Susuri tebing-tebing melewati mercusuar hingga ke ujung bukit. Di depannya sebuah pulau kecil teronggok yang menurut cerita masyarakat setempat adalah jelmaan sebuah kapal seorang anak yang durhaka pada ibunya, dialah Si Amat Ramanyang yang dikutuk menjadi batu.

Aku menghela nafas panjang. Tertegun melihat pemandangan indah di sekelilingku. Indah namun mengkhawatirkan. Antara aku harus bersyukur dengan kurangnya eksploitasi dan berharap semua orang datang melihat apa yang kulihat. Tanpa eksploitasi saja sampah sudah bertebaran di atas bukit ini dan sampah plastik mengapung seperti ubur-ubur di permukaan laut. Sampai kapan rakyat Aceh peduli dengan kebersihan? Sampai kapan rakyat Aceh yang dikenal berbudaya ini berhenti membuang sampah tidak pada tempatnya? Apakah membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya Aceh? Hhhhhh. Aku kembali menghela nafas panjang dan menghembusnya keras-keras. Jika saja kita semua mau menjaga kebersihan lingkungan, hal kecil saja, seperti tidak membuang sampah sembarangan, alam akan senantiasa bersih, semua orang akan senang datang dan melihat Aceh.

Lageun, Pantai di Pinggir Jalan

lageuen-8Pantai Lageun ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan Meulaboh-Calang-Banda Aceh. Jalan beraspal mulus dan lebar ini dibangun berkat bantuan rakyat Amerika pasca tsunami tahun 2004 silam yang selain  mempermudah kembali arus transportasi antar kabupaten di pesisir barat juga mengekspos kecantikan Lageun di kabupaten Aceh Jaya.

Untuk mencapai pantai ini dapat ditempuh dengan sepeda motor atau mobil kurang lebih 2 jam dari kota Banda Aceh atau 1,5 jam dari kota Meulaboh. Tidak ada yang berjualan di areal pantai dan sangat sepi jika didatangi pada hari selain akhir minggu.

Aku lebih senang berada di pantai ini ketika sepi, menikmati tiupan angin sepoi sambil membenamkan kaki ke dalam pasir kasar berwarna kemerahan dan membiarkannya menggelitik telapak kaki. Kerisik daun jarum cemara laut berkaloborasi dengan deburan ombak membuatku sejenak lupa pada teriknya matahari yang membakar. Ah, enaknya kalau pantai ini punya sendiri.

lageuen-7

Pulau Weh, Tidak Melulu Pantai dan Snorkeling kok

Pria Laot waterfall

Pulau Weh itu seperti magnet. Setiap kali namanya terlintas di pikiranku, selalu timbul rasa tertarik ingin kembali ke sana. Begitu juga setiap kali melihat pulau ini dari kejauhan di tepi Pantai Ulee Lhee, daya tariknya semakin kuat. Meski sekarang aku tinggal di Lhokseumawe, daya tariknya tak melemah sedikitpun. Hingga akhirnya pada suatu akhir pekan gaya magnetisnya berhasil menarikku dengan kekuatan penuh. Continue reading

Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai

Terakhir kali aku berkemah dulu itu ketika mengikuti ekskul Pramuka waktu kelas 1 SMP. Sudah sepuluh tahun lebih dan pengalamannya yang bisa kuingat hanya sebatas minta tandatangan senior, disuruh push-up, main bola dangdut sambil hujan-hujanan, dan mandi di aliran sungai dari pegunungan Leuser yang super dingin. Di kala itu aku dan para anak-anak bawang lainnya belum diajarkan bagaimana bertahan di tengah hutan, hujan dan badai. Semua dijaga dan diatur oleh kakak pembina. Pelajaran kecil penting ini baru aku rasakan di hari sabtu tanggal 7 Juli lalu. Meski cuma semalam, aku belajar banyak hal dari dari alam.

Pantai Lhok Mata Ie dan di depan sana adalah Pulau Bunta yang tak berpenghuni.

Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan terdahulu (bisa baca di sini) kami  bertiga sudah berencana untuk berkemah di Ujong Pancu, yaitu sebuah kampung di kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berpotensi menjadi salah satu tujuan Aceh tourism baik lokal maupun domestik. Sesuai namanya, Ujong yang berarti ujung merupakan bagian paling ujung pulau Sumatra. Ada 2 peternakan ayam yang berbatasan langsung dengan jalan beraspal di pinggir pantai. Tempat ini dijadikan starting point dan sebagai tempat parkir orang-orang yang pergi berkemah dan para pemancing. Jika musim hujan, bau kotoran ayam yang basah menguar menyesakkan dada. Continue reading

Lhok Mata Ie Ketika Hujan

Pantai Lhok Mata Ie adalah salah satu pantai sekaligus tujuan wisata Aceh yang bisa dikatakan private beach-nya Aceh Besar. Selain tersembunyi, pengunjung yang mau datang ke lokasi ini harus menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah pantai Ujong Pancu dan dilanjutkan berjalan kaki selama 1 jam naik turun bukit.

Perjalanan ke Lhok Mata Ie kali ini adalah untuk menunjukkan ke Dika dan Kindi lokasi perkemahan kami yang sudah lama direncanakan. Tapi tertunda karena belum punya tenda dan perlengkapan lainnya.  Continue reading

Nice trip ke Ie Su’um dan Ujong Pancu

Yes! Liburan lagiii…

Loh? Puasa-puasa libur? Ga kerja?

Iyaaahh..ini bisa libur karena pas berangkat ke Banda Aceh untuk laporan bulanan.

Tanggal 18 Agustus lalu aku berangkat ke Banda Aceh. Jadi kebetulan pas weekend aku bisa mengunjungi beberapa objek wisata di Banda Aceh dan Aceh Besar. Padahal sebenarnya ga pengen lama-lama di Banda Aceh, cukup dua hari aja. Tapi gara-gara cuaca yang hujan bikin aku mikir kalau jalan Lamno – Calang pasti becek dan malasnya terperangkap dalam lumpur. Jadi tambah malas buat pulang. Akhirnya aku bertahan sampai beberapa hari di sana.

Hari pertama, sedang jalan-jalan di jalanan Teungku Daud Bereueh. Shalat di Masjid Al-Makmur dan ganti baju di jembatan penyebrangan. Kebetulan toilet mesjid sedang direnovasi, aku yang masih pake kemeja karena baru pulang dari kantor harus nyari tempat buat ganti kemeja dengan kaos. Pilihanku cuma di atas jembatan penyeberangan itu. Karena selalu aja tempat itu jaraaang sekali ada yang pergunakan. Sempat juga kepikiran kalo nanti ga tersedia penginapan di rumah kawan, aku tidur aja di atas jembatan itu. Hehe…

Setelah ganti baju, istirahat bentar di atas sambil perhatiin lalu lintas. Iseng aku foto-foto.

Sedang nunggu labi-labi (angkot)

Tuh, haltenya juga jaraaang sekali dipake buat nunggu angkutan umum. Paling juga buat berteduh atau buat ditiduri sama tukang-tukang becak atau yang seperti di dalam foto di atas. Kalo dipikir-pikir, keknya kota ini emang ga perlu halte lah! Labi-labi aja berhenti di mana aja dia dan penumpang suka. Haha…

Setelah Masjid Raya Baiturrahman, masjid lain yang aku suka adalah Masjid Al Makmur yang di Lampriet. Paling suka sama karpet sajadahnya yang super empuk. Shalat di dalamnya pun berasa nyaman dan adeeemmm…

Masjid Al Makmur

Selanjutnya aku ke Ie Su’um di Kecamatan Krueng Raya. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan motor. Melewati Pelabuhan Malahayati yang bersejarah itu jadi ingat bosku yang punya nama yang sama. Hehe..

Perjalanan menuju lokasi air panas dari jalan raya ditempuh selama lebih kurang setengah jam, jalan yang dilalui pun naik turun bukit dan kondisi aspal yang rusak parah. Bahkan salah satu jembatan menuju ke lokasi sumber air panas rusak karena dibakar oleh orang yang sepertinya sih nyari perhatian Pemda setempat supaya daerah mereka segera diaspal dan jembatannya diperbaiki. Ehm, iya sih. Terakhir kali ke sini tahun 2008 lalu kondisi jalannya tambah parah. Semoga aja pemerintah daerah segera memperhatikan daerah terpencil ini.

Ie Su'um (2008)

Itu foto sumber air panasnya. Foto lama sih. Waktu itu belum ada pembangunan kolam untuk menampung air panasnya. Sekarang udah keren, ada kolam dan perosotan buat anak-anak. Kolamnya dibuat tertutup dan dipisah untuk laki-laki dan perempuan.

Uap

Kolam air panas

Kolam baru sedang dibangun

Nah itu dia foto-foto kolamnya. Yang ada tenda-tenda putih itu kolam buat anak-anak karena lokasinya terbuka dan lebih kecil dan dangkal. Sedangkan foto di atasnya untuk dewasa dengan  kedalaman dua meter. Untuk kolam yang dewasa, ada dua kolam, kolam yang besar dan yg kecil. Jadi aliran air panasnya ngalir dari parit khusus dan ditampung di kolam kecil ukuran 2×2 meter yang kemudian langsung mengalir ke kolam yang lebih besar.

Pas nyampe di sana, kolam buat yang dewasanya sedang diisi, airnya baru selutut dan masih sangat panas untuk ukuran suhu tubuh normal manusia. Jadi aku ga berani loncat. Terus aku ke kolam untuk ceweknya, kebetulan waktu itu kolamnya sepi. Ga ada pengunjung. Jadi untuk kolam cewek airnya sengaja dibendung dan cuma mengalir di kolam penampungan pertama dan airnya hangat. Jadilah aku berendam di situ dengan hanya bercelana dalam. Mumpung lagi sepi. Haha…

Pulang dari Ie Su’um, aku lanjut lagi ke…entah apa nama daerahnya. Dari Ulee Lhee aku belok kiri ke arah Ajun. Lewat dari Water Boom dan Banda Seafood, aku belok ke kanan dan mengikuti jalan beraspal sampai mentok. Jalan aspalnya putus dan di depan udah semak belukar aja. Ternyata, inilah namanya Desa Ujong Pancu. Dulu pernah dengar dari beberapa orang tentang desa di tepi pantai ini.

Ujong Pancu = Ujung Sumatra?

Sepertinya Ujong Pancu ini adalah daerah paling ujung dari pulau Sumatra. Tapi ga tau juga sih ya.. Belum liat peta. Tapi kalo dari namanya sih kayaknya iya. (ngarang!) :p

Ujong Pancu

Boat dijual murah. LOL

Oke, udah dulu jalan-jalannya. Harus balik ke Meulaboh. :D

Lampuuk Berjaya

Well, saya bingung kenapa harus memberi judul tulisan ini dengan judul di atas. Seperti judul berita-berita olahraga di Koran-koran lokal. Hehehe…
Eh tunggul dulu! Saya sudah menemukan jawabannya. Hahaha…Mikir panjang juga akhirnya. Tentu saja Berjaya itu bermakna. Ya! Bersama Kemal, Wulan, Fina dan Mega. Kita berjaya setelah menempuh perjalanan yang memprihatinkan di bawah gumpalan-gumpalan awan kelabu yang siap menumpahkan hujan. Sekalipun kemudian gerimis dan hujan dan untungnya cuma sebentar saja. Segera saya membuka baju dan nyebur setelah menunggu beberapa lama karena hujan dan kawan-kawan Kemal yang juga tak kunjung tiba.

Tampak belakang. Kikan : Wulan, Mega, Fina, Kemal

Wulan, Mega, Fina, Kemal

Pantai Lampuuk di sore minggu itu (22/02) luar biasa ramainya. Dan rada pusing juga sih mau loncat di mana, sepertinya setiap senti pantai dipadati manusia-manusia yang ingin berendam ke dalam laut. Ada dua buah boat yang bersauh sekitar seratus meter dari pantai.

Dengan mengenakan celana pendek selutut yang sedikit kedodoran, saya berenang ke arah salah satu boat yang terdekat. Di sana sudah ada tiga orang laki-laki yang berhasil naik dan satu orang lagi sedang berusaha bunuh-bunuhan untuk naik. Hahahaha… Dia sendiri tidak mampu mengangkat tubuhnya untuk naik. Dan akhirnya mengalah juga dia dengan keadaan tubuhnya yang saya taksir berbobot 75 kilo!

Dari atas boat saya dapat melihat kawan-kawan saya masih saja duduk di pondok di atas pantai sana. Huhhh… Mereka sedang menikmati kelapa muda rupanya. Saya mau kembali tapi masih capek sekali. Padalah jarak dari pantai ke boat tidak begitu jauh. Tapi arus laut yang bergelombang dan celana yang saya pakai membuat tenaga saya terkuras. Saya istirahat dulu disana sambil menyaksikan anak-anak bodoh sedang berteriak-teriak di atas banana boat. Aneh! Hahahahaha…
Beberapa menit kemudian, satu persatu kami berloncatan ke dalam laut lagi dan berenang ke tepi.

Sekitar setengah jam mungkin ya, barulah anak-anak berempat itu mau bersentuhan dengan air laut. Heran semuanya pada takut sama air. Apalagi Kemal tuh! Tumben takut air. (LOL).

12Tak terasa sudah berapa jam pula kita menghabiskan waktu berendam, berenang dan pipis di sana. Hahahaha… Beberapa kejadian lucu juga terjadi. Fina yang panik dengan ombak yang tiba-tiba menenggelamkannya. Celana saya yang nyaris direbut sama Kemal untuk dijadikan jimat digantung dilehernya mungkin? Terus beberapa aksi seru hasil kerja sama dengan pengunjung lain. Saya menawarkan diri (aduh bahasanya!) untuk salto dengan cara berdiri di atas lipatan tangan tiga orang dan saya loncat melakukan salto ke belakang. Wuiiih! mantap!

Juga, ada beberapa yang pria-pria ‘cantik’ yang tiba-tiba lewat. Salah satu dari mereka, saya lihat sedang berenang menggunakan ban ke arah boat yang tadi saya naiki.

Perhatikan yang dalam lingkaran hitam

Perhatikan yang dalam lingkaran hitam

Nah, capek kan setelah berenang melawan arus yang lumayan deras waktu itu. Waktunya kita istirahat lalu pulang. Nih beberapa foto yang berhasil saya ambil setelah fotografer sialan dengan kamera gedenya itu menghilang dari penglihatan.

141517

Thanks, Mal..

Oke oke..saya sudah kembali ke kehidupan rutin saya lagi sekarang. Tujuh hari saya di Banda Aceh, begitu banyak kejadian-kejadian unik dan lucu yang saya alami. Ada hari yang buruk dan ada hari yang menyenangkan.

Satu hari, yang mampu saya ingat tentu saja satu hari yang penuh dengan hal-hal menyenangkan. Sehari bersama Kemal di pantai Lampuuk.

Hahahahaha…gila ni anak! Pintar sekali mereka-reka percakapan orang lain hingga membuat saya terbahak sampai sakit perut dan tak mampu berjalan. Juga kenarsisannya ketika difoto. Juga ketika dia tak berani menuruni tebing dari gua yang kita panjat. Mengingat semuanya kembali saya tertawa dan senyum-senyum geli. Hihi…untung tidak ada yang melihat saya ketawa-ketiwi sendirian di kantor. Bisa gawat kan?

img_5724

So, thanks to Kemal so much deh!

Peunayong – Keutapang

Berjalan kaki di Banda Aceh memang suatu keasyikan sendiri bagi saya. Sekalipun banyak reaksi miring yang bikin telinga kering tentang kebiasaan saya ini tapi semangat tetap jalan terus! Reaksi kawan-kawan yang tau tentang kebiasaan saya ini sama saja semuanya. Satu kata : GILA!

Yah, sodara-sodara.. Bukannya saya pelit tidak mau berbagi ke abang tukang becak mari dong kemari, aku mau nabok…(Haiah!!!). Tapi ini menyangkut hati, man! Saya memang cinta mati sudah berjalan kaki kalau malam-malam di Banda Aceh. Biar dikata gila juga siapa yang peduli? Nyak-nyak penjual pisang goreng saja tak peduli, apalagi kupu-kupu malam di pinggir jalan Stui!

Seperti barusan, saya kembali melihat penampakan-penampakan yang membuat saya miris. Beberapa wanita yang keluyuran tengah malam di trotoar dengan pandangan mata yang ‘penuh harap’ ke arus lalu lintas. Demi mencari makan mereka terpaksa atau tidak, harus bekerja seperti itu. Saya jadi merasa bersalah ketika tadi begitu menikmati makanan-makanan di Daus. Yah, sekalipun ditraktir sih.

Berjalan kaki bagi saya adalah satu-satunya kegiatan yang mesti dan harus dan kudu dilakukan kalau di Banda Aceh. Sekalipun kaki dan bahu yang menahan ransel terasa mau lepas ditambah pula dengan kerinduan pada blog. Kaki saya pun bergerak seperti kesurupan. Tak peduli lagi pada sakit malah mempercepat jalan hingga bertemu warnet.

Hm, saya kepikiran terus nih, berapa kilometer ya jarak perjalanan yang sudah saya tempuh berjalan kaki dari Peunayong ke Keutapang?

Homeless

Saya sudah di Banda Aceh sekarang. Sekitar jam setengan tujuh tadi saya turun di rex Penayong. Bingung mau kemana. Lalu saya jalan dan memasuki beberapa hotel terdekat buat nanyain kamar termurah yang masih kosong. Hmmh…Semuanya penuh! :)

Santai, Cit. Ayo sarapan dulu.

Saya mampir dan makan di sebuah warung di deretan hotel Cakradonya. Lalu berjalan lagi mencari-cari kios penjual pulsa. Saya harus menelepon resepsionis hotel Rajawali yang di Lampulo. Mungkin masih ada kamar kosong di sana. Tapi sialnya belum ada satupun penjual pulsa yang membuka kios-kiosnya. Akhirnya saya duduk beristirahat sebentar di tepi sungai. Dari situ saya bisa melihat gedung BI, BRI dan Mesjid Baiturrahman.

Hm…saya punya ide! Bolehlah hari ini tak perlu menginap di tempat penginapan. Saya bisa menumpang mandi saja di kamar mandi mesjid dan mungkin bisa ikut acara ABC itu dengan membawa semua barang-barang saya yang terpacking dalam backpack! Yang penting kan saya sudah mandi dan wangi! Nah, kalau malam nanti ya saya pikirkan nanti saja. Hahahahahaha…

Hari ini, saya ingin meredakan sedikit tekanan di diri saya akibat kejadian kemarin pagi. Yah, setiap perbuatan pasti selalu ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Saya pasti dan harus bisa melewati ini semua.

Hahhhh…segar sekali pagi ini. Setelah mandi, saya ke warnet yang ada tulisan besar 24 jam di depannya. Hm, namanya dotcom rupanya. Seperti biasa, mencek komen dan stat pada blog dan email.

Alhamdulillah, Jumat kemarin (14/11) stat pada blog saya menunjukkan angka tertinggi dalam masa perbloggan saya selama ini. Angkanya 220! (Keprok keprok). Lucunya banyak juga yang terkecoh dengan pemasangan foto Amborzi itu. Mohon maaf saudara-saudari sekalian. Itu bukan foto jenazah penembakan eksekusi mati Alm. Amrozi. Tapi foto korban penembakan lewat jepretan kamera! Ayo dong…Itukan cuma joke! Itu salah satu bentuk simpati saya terhadap penerima hukuman eksekusi mati yang kemudian beritanya menjadi konsumsi publik. Sungguh menyedihkan. Tapi pernyataan ini bukan berarti saya membenarkan perbuatan mereka ya…Catat!

Sudah hampir sejam nih saya di warnet. Mau kemana lagi ya? Hih..Bingung!