Sudah lama banget pengen ikut acara lari di Banda Aceh. Setelah tiga tahun kutinggalkan, kawan-kawan lari di kota sejuta kedai kopi itu makin semarak saja. Makin ramai. Terbukti dari aktifnya komunitas lari Indorunners Aceh (IRA) yang menggelar Sunday Morning Run (SMR) dan beberapa kali dipercayai pula menjadi pengurus charity race. Seperti Rhino Run, Tiger Day, Earth Hour, dan event lari Indonesia Mengajar. Anggotanya kian lama juga bertambah terus. Beda banget waktu aku dulu masih di sana. Dalam setahun orangnya ya itu-itu saja. Hehe…

Tanggal 22 April lalu, kebetulan sekali aku masih di Banda Aceh yang hari itu bertepatan dengan event Elephantastic Run yang diadakan oleh WWF untuk menggalang kepedulian masyarakat Indonesia akan pentingnya gajah untuk masa depan lingkungan kita kelak. Acara ini terselenggara berkat kerjasama WWF dengan Indorunners dan Enervon Active. Acara lari ini terbilang sukses, meski ada beberapa kekurangan di sana-sini.

#ElephantasticRun2018
#ElephantasticRun2018 (Photo Credit: IRA)

Pagi itu aku keluar dari ruko tempatku menumpang tidur semalam lalu berlari pelan ke lokasi race. Di sana sudah menanti beberapa orang anak-anak IRA. Orang pertama yang kukenali adalah Kak Yuli, atlet lari Aceh yang masih aktif mengejar prestasi. Lalu wajah-wajah lain yang sudah kuhapal lewat foto-foto yang bertaburan di grup Whatsapp IRA. Hati jadi hangat bertemu mereka. Kayak enggak percaya gitu. Ajaib.

Bertemu kawan-kawan lari yang sebelumnya cuma berkomunikasi lewat grup Whatsapp.
Bertemu kawan-kawan lari yang sebelumnya cuma berkomunikasi lewat grup Whatsapp. (Photo credit: IRA)

Acara larinya dimulai sangat telat dari jadwal yang sudah ditentukan. Peserta lari baru dilepas pada jam 8 pagi sedangkan matahari sudah mulai beringas dengan cahaya teriknya. Untungnya jaraknya cuma 5K. Kalau lebih dari itu ya kasihan pelari-pelari yang baru pertama kali ikut lari, kepanasan.

Berlari di sekitar Kota Banda Aceh itu enak banget. Setiap jalan yang kulewati membangkitkan kembali kenangan-kenangan lama. Nostalgia saat berlari itu ternyata sensasinya unik ya? Kadang aku merinding dan terharu melihat tempat-tempat yang masih seperti dulu aku tinggali. Atau saat menemukan sudut-sudut kota favorit yang lama tak dikunjungi. Wajah-wajah orang yang dilewati terasa familiar. Padahal belum tentu kenal juga.

Photos credit: Koj Dicko
Photos credit: Koj Dicko

Pagi itu kendaraan belum begitu banyak. Berlari di pinggir jalan pada pagi itu masih okelah tanpa harus ‘bersaing’ dengan kendaraan. Uniknya berlari ramai-ramai di hari minggu itu adalah kita dilihatin orang-orang dengan tatapan aneh.

Olahraga lari di Aceh memang tidak sepopuler di daerah lain yang booming banget. Jadi ya wajar jika pelari masih menerima tatapan “ngapain sih ini orang lari-lari?”

Marshal ditempatkan di setiap persimpangan untuk membantu pelari agar tak salah rute. Sayangnya, sejauh 5 kilometer itu tak tersedia water station satu pun. Semoga di event lari selanjutnya, panitia benar-benar menyediakan WS meski pun jaraknya cuma 5k.

Lokasi finish berada di sebuah kedai kopi. Kami melakukan pendinginan di halamannya. Setelahnya dilanjutkan pula dengan coaching clinic singkat dan penampilan perkusi dari anak-anak SOS Children.

Finish strong
Finish strong (Photo credit: IRA)

Koj Ayun. Pelari yang tiap minggu lari half marathon.
Koj Ayun. Pelari yang tiap minggu lari half marathon. Terbaik! (Photo credit: IRA)

Acara lari ini juga bertabur hadiah seperti acara-acara lari lainnya. Sayangnya aku tak mengikuti satu pun challenge-nya. Padahal hadiah utamanya ada Garmin Forerunner 235 yang kemudian dimenangkan oleh kapten Indorunners Aceh: Koj Dicko. Sedangkan kawan-kawan lari yang lain menerima merchandise bagus dari WWF berupa kaos dan tumblr